BOOK REPORT “MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDKAN SEKOLAH

IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Manajemen & Kepemimpinan Pendidikan Islam

Pengarang                   : Prof. DR. H Ramayulis & DR. Mulyadi S.Ag,M.Pd

Penerbit                       : Kalam Mulia Jakarta

Tahun                          : 2017

Jumlah Halaman          : 290

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

BAGIAN PERTAMA :

  1. PENGERTIAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
  2. Pengetian Administrasi
  3. Etimologis

Kata “administrasi” berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari kata ad dan ministrate. Kata ad berarti intensif, sedangkan ministrate artinya melayani, membantu, atau mengarahkan. Jadi pengertian administrasi adalah melayani secara intensif. Dari perkataan “administrasi” terbentuk kata benda administratio dan kata administravius yang kemudian masuk ke dalam bahasa inggris “ad” dan “ministro”. Ad mempunyai arti “kepada” dan ministro berarti “melayani”. Dengan demikian dapat diartikan bahwa administrasi merupakan pelayanan atau pengabdian terhadap subjek tertentu. Memang, pada masa lalu administrasi dikenakan kepada pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian atau pelayanan kepada raja atau menteri-menteri dalam tugas mengelola pemerintahannya.

Dalam arti yang sempit, kata administrasi sama dengan tata usaha (ojfice work) yaitu kegiatan tulis menulis di kantor (clerical work) yang dilakukan secara sistematis, dan mencakup kegiatan menerima, mencatat, mengagendakan, mengolah, menggandakan, mengirim, menghimpun, menyelenggarakan kearsipan dan dokumentasi, menetapkan sistem kerja, mengadakan standarisasi bentuk-bentuk formulir dan ukuran kertas, dan menjaga keharmonisan kerjasama di antara personil yang ada pada suatu organisasi.

Dengan demikian pekerjaan ketatausahaan atau ketatalaksanaan itu berfungsi sebagai pengumpulan, pencatatan, dan pengolahan suart-surat atau data yang diperlukan secara sistematis untuk memperoleh gambaran yang komprehensif serta tata hubungan satu sama lain dari berbagai data dan informasi yang diterima.

Sedangkan dalam arti yang luas, administrasi dapat diartikan, segala kegiatan sekelompok manusia, melalui tahapan-tahapan yang teratur dan dipimpin secara efektif dan efisien dengan menggunakan segala sarana, prasarana, dan fasilitas yang tersedia baik personal, material, dan spiritual agar tercapainya tujuan yang diinginkan.

Dengan demikian pekerjaan ketatausahaan atau ketatalaksanaan itu berfungsi sebagai pengumpulan, pencatatan dan pengolahan surat- surat atau data yang diperlukan secara sistematis untuk memperoleh gambaran yang komprehensif serta tata hubungan satu sama Ia.n dan berbagai data dan informasi yang diterima.

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa kegiatan administrasi tidak terbatas pada ketatausahaan saja, akan tetapi mencakup semua rangkaian pengendalian usaha kerjasama kelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama.

  1. Terminologi

Secara terminologi, bermacam-macam rumusan para ahli tentang administrasi, diantaranya :

Sondang P. Siagian (1974:2), administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu, untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Herbart Simon (1959):3) administrasi itu sebagai kegiatan sekelompok orang yang secara bersama-sama berusaha untuk mencapai tujuan bersama.

The Liang Gie (1970), administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilaksanakan oleh sekelompok orang dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.

Depdikbud, dalam Pedoman Pelaksanaan Kurikulum buku III SD, administrasi ialah usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber (personel maupun material) secara efektif dan efisien untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

Henri Fayol (1841-1929), administrasi adalah fungsi dalam organisasi niaga yang unsur-unsurnya adalah perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian, dan pengawasan. Teori administrasi dapat diterapkan pada semua bentuk organisasi kerjasama manusia yang menekankan rasionalisme dan konsistensi logis. Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari berbagai kegiatan yang berhubungan dan bersambungan.

Ordway Tead (1953), administrasi adalah usaha yang luas mencakup segala bidang untuk memimpin, mengusahakan, mengatur kegiatan kerjasama manusia yang ditujukan pada tujuan-tujuan dan maksud-maksud tertentu.

John M. Pfiffner (1960), mengemukakan administrasi adalah suatu kegiatan proses terutama mengenai cara-cara (alat-alat) saran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Administrasi juga dapat dirumuskan sebagai pengorganisasian dan pengarahan sumber daya manusia, tenaga kerja, dan materi untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Dalam konteks negara, administrasi adalah penyelenggaraan kebijaksanaan publik yang telah ditetapkan oleh badan-badan perwakilan politik.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa administrasi adalah rangkaian kegiatan bersama sekelompok manusia secara sistematis untuk menjalankan roda suatu usaha atau misi organisasi agar dapat terlaksana, suatu usaha dengan suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan secara bersama.

Kalau dianalisis pembahasan tersebut di atas tampak bahwa, kegiatan manusia yang disebut administrasi mengandung tiga faktor yaitu: (l) tujuan tertentu sebagai tujuan organisasi maupun tujuan antara dari setiap kegiatan yang telah ditentukan sebelumnya, (2) aktivitas atau proses kegiatan manusia sebagai gejala sosial berlangsung dalam interaksi antar sejumlah manusia yang diuraikan dalam setiap unit kerja, yaitu untuk mencapai tujuan tersebut yang dilakukan secara teratur, terorganisir dan sistematis, dan (3) rangkaian itu berupa usaha kerjasama untuk mencapaiu tujuan bersama atau “achievement of goal” yaitu tercapainya tujuan melalui pembagian tuga sdalam satu kesatuan kerja, dengan melakukan pengawasan terhadap mutu yang diharapkan.

  1. Pengertian Pendidikan
  2. Etimologis

Dalam bahasa Indonesia, istilah pendidikan berasap dan kata “didik” dengan memberikan awalan “pe” dan akhiran an, mengan- dung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu pa yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Dalam paedagogos adanya seorang pelayan atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Perkataan yang mulanya berarti “rendah” (pelayan, bujang), sekarang dipakai untuk pekerjaan mulia. Paedagogos (pendidik atau ahli didik) ialah seseorang yang tugasnya membimbing anak. Sedangkan pekerjaan membimbing disebut paedagogis. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan. (Ramayulis, 2012: 30)

  1. Terminologi

Secara terminologi banyak sekali istilah pendidikan yang dikemukakan baik yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan Indonesia, Barat, maupun istilah yang dikembangkan dalam sistem Pendidikan Nasional. Dibawah ini dicantumkan beberapa definisi yang dapat mewakili masing-masingnya.

  • Ahmad D Mariba (1987:13), menjelaskan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani di terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

Merimban menekankan pengertian pendidikan pada pengembangan jasmani dan rohani menuju kesempurnaannnya, sehingga terbina kepribadian yang utama, suatu kepribadian yang seluruh aspeknya sempurna dan seimbang. Untuk mewujudkan kesempurnaan tersebut dibutuhkan bimbingan yang serius dan sistematis dari pendidik.

  • Hasan Langgulung (1980: 94), mengemukakan bahwa pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi; pertama, dari sudut pandangan masyarakat; kedua, dari sudut pandangan individu. Dari sudut pandangan masyarakat pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua ke generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan, dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai- nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara. Dilihat dari segi pandangan individu, pendidikan berarti pengembangan potensi- potensi yang terpendam dan tersembunyi. Manusia mempunyai berbagai bakat dan kemampuan yang kalau dikelola secara cerdas bisa berubah menjadi emas dan intan.
  • Coser, dkk (1983: 380) mengemukakan, “education is the deliberate formal transfer of know ledge, skill and value from one person to another person”. Dari defenisi ini, pendidikan dipandang sebagai usaha sengaja untuk mentransfer ilmu pengetahuan, skill, dan nilai-nilai dari guru kepada siswanya. Artinya ada tiga dimensi pokok yang perlu ditanamkan kepada diri siswa, yaitu pengetahuan, keterampilan untuk bisa melanjutkan hidup, dan nilai-nilai agar dapat bersikap ramah dan baik terhadap sesama.
  • Carter V. Good ( 1959) menjelaskan, “the education is the sistematized learning or instruction concerning principles and methods of teaching and of student control and guidance; largely replaced by the term education”. Dari penjelasan Carter V. Good tersebut, dapat dimaknai bahwa pendidikan adalah seni, praktik atau profesi sebagai pengajar, ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip atau metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid dalam arti yang luas digantikan dengan istilah pendidikan.
  • Menurut undang-undang NO.20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS bab I mengatakan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untu memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlu- kan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Defenisi terakhir ini termasuk perumusan pendidikan yang paling baik dan sempurna saat ini di Indonesia. Defenisi inilah yang menjadi acuan masyarakat dan bangsa Indonesia. Walaupun dari beberapa defenisi di atas terdapat perbedaan dalam merumuskan istilah pendidikan, namun dari semua defenisi tersebut terdapat beberapa persamaan, yaitu:

  • Adanya usaha sadar dan terencana dalam bimbingan, yang disebut dengan “proses pendidikan”.
  • Adanya orang (subjek) yang melakukan bimbingan yang disebut “pendidik”.
  • Adanya orang (subjek) yang dibimbing, yang disebut “peserta didik”.]
  • Adanya tujuan yang akan dicapai yang disebut dengan “tujuan” atau “kompetensi”.
  1. Pengertian Pendidikan Islam
  2. Etimologis

Dalam konteks Islam, pendidikan secara secara bahasa (Lughatan) ada tiga yang digunakan. Ketiga kata tersebut, yaitu (1) at-tarbiyah, (2) at-ta’lim, (3) at-ta’dib. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang berkaitan saling cocok untuk pemaknaan pendidikan dalam Islam. Ketiga makna itu mengandung makna yang amat dalam, menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam gubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain.

  1. Terminologis

Pendidikan Islam menurut istilah dirumuskan oleh pakar pendidikan Islam, sesuai dengan persepsi masing-masing. Di antara rumusan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Al-Absyari (tt: 100), memberikan pengertian bahwa tarbiyah adalah mempersiapkan manusiawan supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan atau tulisan. Abrasyi menekankan pendidikan pencapaian kesempurnaan dan kebahagiaan hidup.
  • Hasan Langgulung (1980: 87), mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang di- selarasikan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.” Langgulung menekankan pendidikan Islam pada mempersiapkan generasi muda dengan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam untuk mampu berusaha di atas dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
  • Omar Mohammad al-Thoumi Al-Syaibani (1979: 339), menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan tingkah laku, dari yang buruk menuju yang baik, dari yang minimal menuju yang maksimal, dari yang potensial menuju aktual, dari yang pasif menuju aktif. Cara mengubah tingkah laku itu melalui proses pembelajaran. Perubahan tingkah laku tidak saja terhenti pada level individu, tetapi juga mencakup level masyarakat (etika sosial), sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki kesalehan sosial.
  • Menurut rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia yang ke 2, pada tahun 1980 di Islamabad, bahwa pendidikan harus ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan personalia manusia secara menyeluruh, dengan cara lain melatih jiwa, akal, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikian pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia pada seluruh aspeknya : spritiual, intelektual, daya imajinasi, fisik keilmuan dan bahasa , btuk secara individual maupun kelompok serta mendorong seluruh aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan diarahkan pada upaya merealisasikan penga lan manusia kepada Allah, baik pada tingkat individual, masyarakat, dan kemanusiaan secara luas.

Berdasarkan hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 dirumuskan, pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Pengertian di atas dikomentari oleh Abdul Mujib, bahwa pendidikan Islam berupaya mengarahkan pada keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, melalui bimbingan, pengarahan, pengajaran, pelatihan, pengasuhan dan pengawasan, yang kesemuanya dalam koridor ajaran Islam.

Dari semua rumusan yang dikemukakan para ahli pendidikan di atas, serta beberapa pemahaman yang diperoleh dari beberapa istilah dalam pendidikan Islam, seperti tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan istilah lainnya, maka pendidikan Islam daoat dirumuskan sebagai berikut :

“proses internalisasi pengetahuan da nilai-nilai Islam kepada peserta didik melaui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup didunia dan akherat.

  1. Pengertian Administrasi Pendidikan

Secara umum dikatakan bahwa administrasi pendidikan merupakan aplikasi ilmu administrasi dalam kegiatan pembinaan, pengembangan dan pengendalian usaha-usaha pendidikan yang diselenggarakan dalam bentuk kerjasama sejumlah orang dengan menggunakan segala sarana dan prasarana yang tersedia baik moral material dan spiritual agar tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Karena itu, administrasi pendidikan merupakan serangkaian kegiatan atau proses yang berkelanjutan menggunakan prinsip-prinsip administrasi. Kegiatan administrasi pendidikan dalam rangka memanfaatkan semua potensi atau sumber daya yang tersedia, untuk mencapai tujuan yang diperjuangkan agar terpenuhi secara efektif dan efisien. Kegiatan atau aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifatnya ataupun pelaksanaannya disebut fungsi. Aktivitas-aktivitas tersebut digabungkan menjadi satu kesatuan dan diserahkan menjadi tanggung jawab seseorang yang bertanggung jawab terhadap organisasi tertentu.

  1. Pengertian Administrasi Pendidikan menurut para Ahli

Walaupun secara umum dikatakan bahwa administrasi pendidikan adalah implikasi administrasi pada kegiatan pendidikan, namun para ahli juga merumuskan defenisi administrasi pendidikan sesuai dengan persepsi masing-masing.

Ngalim Purwanto (1979), “Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, spiritual dan material, yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan.” Selanjutnya dikatakan bahwa proses administrasi pendidikan melibatkan segenap usaha dalam proses pencapaian tujuan pendidikan itu yang diintegrasikan, diorganisasikan, dan dikoordinasikan secara efektif agar semua materi yang diperlukan dapat dimanfaatkan secara efisien.

  1. Engkoswara, “Administrasi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari penataan sumber daya manusia, yaitu kurikulum dan fasilitas untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal dan penciptaan suasana yang baik bagi manusia dalam mencapai tujuan pendidikan.”
  2. Hadari Nawawi (1979), “Administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis
  3. Engkoswara, “administrasi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari penataan sumber daya manusia, yaitu kurikulu dan fsilitas untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal dan penciptaan suasana yang baik bagi manusia dalam mencapai tujuan pendidikan.”
  4. Hadari Nawawi (1979), “administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan dalam lingkungan tertentu, terutama dalam lembaga formal.
  5. Jese B Sears, dalam The Nautre of administration process, 1950 “educational administration is the proces as including the following activites planning, organization, direction, coordination, and controll.
  6. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Kurikulum usaha Perbaikan dalam Bidang Pendidikan dan Administrasi Pendidikan. Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, pembiayaan, dan pelaporan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Dari beberapa pengertian administrasi pendidikan yang dikemukakan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa :

  • Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, pembiayaan, dan pelaporan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
  • Administrasi pendidikan adalah suatu cara bekerja dengan orang- orang, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang efektif, yang berarti mendatangkan hasil yang baik dan tepat, sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
  • Administrasi pendidikan itu bukan hanya sekedar kegiatan “tata usaha” sepert yang dilakukan dikantor-kantor tata usaha sekolah atau kantor-kantor inspeksi pendidikan lainnya.
  • Administrasi pendidikan merupakan kegiatan manusia atau sebagai gejala sosial karena didalamnya terjadi interaksi antar sejumlah manusia.
  1. Pengertian Administrasi Pendidikan Islam

Secara umum pengertian administrasi pendidikan Islam sama dengan administrasi pendidikan; yaitu penerapan atau implementasi ilmu administrasi dalam dunia pendidikan atau sebagai penerapan administrasi dalam pembinaan, pengembangan, dan pengendalian usaha dan praktek-praktek pendidikan Islam. Praktek pendidikan ini dilakukan oleh pemerintah sebagai pihak yang memberikan pelayanan kebutuhan penyelenggaraan sekolah/madrasah dan pendidikan dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai pihak yang memberikan pelayanan belajar kepada peserta didiknya melalui kegiatan pembelajaran.

Walaupun administrasi pendidikan dan administrasi pendidikan Islam memiliki persamaan yaitu berupa “implementasi administrasi”, namun ada perbedaan antara administrasi pendidikan dengan administrasi pendidikan Islam.

Administrasi pendidikan merupakan hasil pemikiran manusia semata, sedangkan administrasi pendidikan Islam merupakan hasil pemikiran manusia yang dijiwai dan dinafasi oleh prinsip-prinsip dasar administrasi yang terdapat dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar ajaran Islam.

 

  1. BEBERAPA PEMAHAMAN YANG TERKANDUNG DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Menurut Asnawir (2004 : 4), administrasi pendidikan pada hakikatnya mengandung berbagai pengertian:

Pertama, administrasi pendidikan itu berupa kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dimaksud mulai dari yang sederhana sampai kepada tujuan yang kompleks, yang sangat ditentukan oleh lingkup dan tingkat pengertian dari pendidikan tersebut, yaitu mulai dari tujuan instruksional, tujuan kurikuler, tujuan institusional, dan sampai pada tujuan nasional. Dengan kata lain mulai dari tujuan sederhana sampai kepada tujuan kompleks.

Kedua, administrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian.

Perencanaan merupakan kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, berapa lama waktu yang digunakan serta biaya yang diperlukan. Perencanaan itu merupakan kegiatan awal atau kegiatan yang dibuat sebelum tindakan dilakukan.

Pengorganisasian merupakan kegiatan membagi-bagi tugas atau menentukan job dari orang-orang yang terlibat dalam kerjasama pendidikan tersebut. Oleh karena tugas-tugas dalam pendidikan tersebut cukup banyak, dan melibatkan beberapa orang, diperlukan adanya pembahagian tugas atau menegelompokkan tugas (job qualification), yang diikuti dengan pendeskripsian tugas (job description) untuk masing-masing orang atau masing -masing orang atau personal yang terlibat.

Berikutnya pengkoordinasian dimaksudkan agar tugas yang telah dibagi-bagi tersebut tidak tumpang tindih antara satu sama lainnya, dan dikerjakan tidak menurut kehendak sendiri-sendiri atau masing-masing orang, tetapi harus menurut aturan yang telah ditetapkan dan telah disepakati bersama. Untuk itu sangat diharapkan agar setiap tugas tersebut harus dikoordinasikan antara satu dengan lainnya.

Berikutnya, pengarahan dimaksudkan agar jangan terjadi penyimpangan dari tujuan yang ingin dicapai, sehingga semua orang yang berker ja berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetaipkan sebelumnya, tetap ingat dan konsisten terhadap tujuan dimaksud. Dengan jalan demikian setiap orang yang bekerja akan selalu terarah untuk mencapai tujuan dimakmuri

Di samping itu perlu adanya pemantauan (monitoring) terhadap kegiatan yang dilakukan. Dalam pemantauan tersebut, diusahakan untuk mengumpulkan data yang relevan, sampai dimana tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai, serta kendala apa yang ditemui dalam pencapaian tujuan tersebut. Pemantauan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan bukti-bukti atau data sehubungan dengan kerjasama yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Ketiga, administrasi pendidikan merupakan suatu sistem, yaitu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang berinteraksi untuk mengubah masukan menjadi keluaran, atau untuk mengubah data menjadi informasi. Melalui peninjauan terhadap komponen-komponen atau unsur-unsur tersebut serta hubungan antara satu sama lainnya, akan dapat diketahui kekurangan-kekurangannya dari sistem tersebut, sehingga akan dapat dicarikan jalan keluarnya untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dimaksud. Begitu juga akan dapat dilakukan perbaikan dari komponen- komponen atau melakukan pengembangannya.

Keempat, administrasi pendidikan juga dapat dilihat sebagai suatu manajemen, dimana akan dapat diketahui sumber-sumber yang ada dalam mencapai tujuan pendidikan. Sumber tersebut dapat berupa manusia, uang, sarana, dan prasarana, maupun waktu yang tersedia. Semua sumber-sumber tersebut harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga bermanfaat dan berguna dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai contoh sejauh mana kepala sekolah dapat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melakukan evaluasi tentang program-program yang telah dilaksanakan. Kalau sekiranya kepala sekolah tidak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan evaluasi terhadap program-program yang telah dilaksanakan secara baik, sehingga tidak dapat diketahui mana program yang harus diperbaiki dan mana pula yang harus diikembangkan.

Kelima, administrasi pendidikan juga dapat dipandang sebagai kepemimpinan, sejauh mana seorang administrator pendidikan dapat mempengaruhi orang lain bekerjasama dengannya dalam usaha mencapai tujuan yang diharapkan. Begitu juga sejauh mana pemimpin tersebut dapat memotivasi bawahan agar mau bekerja atau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati sebelumnya. Seorang pemimpin pendidikan dalam kepemimpinannya dapat menggunakan moto “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karson tut wari handayani”. Dengan berpedoman kepada moto tersebut seorang pemimpin pendidikan akan mampu menggerakkan orang lain untuk bekerja lebih giat dengan jalan mampu mempengaruhi dan mengawasi bawahan, dan mampu menciptakan kerjasama dan memberikan contoh.

Keenam, administrasi pendidikan juga merupakan proses pengambilan keputusan, yaitu memilih kemungkinan tindakan yang terbaik dari sejumlah kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan. Seorang pemimpin gharus mampu mengambil keputusan yang baik dan tepat, karena pengambilan keputusan tersebut akan mengandung resiko. Pengambilan keputusan yang salah akan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap pelaksanaan dan pengajaran, sekaligus akan mempengaruhi terhadap pencapaia tujuan pendidikan.

Ketujuh administrasi pendidikan juga merupakan proses komunikasi, yaitu hubungan timbal balik antara komunikator denga komunikan, antara pemimpin dengan bawahan. Dalam proses komunikasi tersebut diharapkan agar orang lain mengerti apa yang kita maksudkan, dan kita btankeputusan tersebut akan mengandung resiko. Pengambilan keputusan yang salah akan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, sekaligus akan mempengaruhi terhadap komunikan, antara atasan dengan bawahan, dan juga antara sesama bawahan. Komunikasi tersebut dapat diibaratkan sebagai pelumas pada kendaraan, tanpa pelumas maka kendaraan tersebut tidak akan dapat berjalan dengan lancar. Begitu juga halnya dengan komunikasi pada suatu pencapaian tujuan pendidikan. juga mengerti apa yang dimaksudkan orang lain. Tanpa komunikasi yang baik, tidak akan dapat diciptakan kerjasama yang baik antara komunikator dengan organisasi, tanpa komunikasi yang baik maka organisasi tersebut juga tidak akan berjalan dengan baik, dan akan terjadi saling curiga mencurigai, saling tuding, dan menjelekkan antara satu dengan lainnya.

Kedelapan, administrasi pendidikan juga diartikan dengan kegiatan ketatausahaan, yaitu kegiatan catat-mencatat, mendokumentasikan menyelenggarakan surat-menyurat dengan segala aspeknya, dan kegiatan pelaporan. Kegiatan semacam ini memang kegiatan yang selalu terjadi dalam

snatn orcramsasi

  1. RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Bidang-bidang yang tercakup dalam manajemen pendidikan sangat banyak dan luas. Setiap pakar pendidikan mengelompokkan sesuai dengan prinsip masing-masing.

Ngalim Purwanto (1987:11-14)

Ngalim Purwanto mengelompokkan ruang lingkup administrasi pendidikan kepada tujuh kelompok, yaitu: (l) tata laksana sekolah, (2) administrasi guru dan pegawai sekolah, (3) administrasi murid/siswa, (4) administrasi supervisi pengajaran, (5) administrasi pelaksanaan dan pembinaan kurikulum, (6) administrasi perencanaan dan pendirian bangunan sekolah, (7) administrasi hubungan sekolah dan masyarakat.

Administrasi tatalaksana sekolah meliputi: (l) organisasi dan struk- tur pegawai tata usaha, (2) otorisasi dan anggaran belanja sekolah, (3) kepegawaian dan kesejahteraan personalia sekolah, (4) perlengkapan dan perbekalan, (5) keuangan dan pembukuan, (6) korespodensi dan surat- menyurat, (7) laporan-laporan (bulanan, kuartal, dan tahunan), (8) pe- ngangkutan, pemindahan, penempatan, dan pemberhentian pegawai, dan (9) pengisian buku pokok, buku klaper, buku rapor dan sebagainya.

Berikutnya administrasi guru dan pegawai sekolah meliputi (1) pengangkatan dan penempatan tenaga guru-guru, (2) organisasi personil guru-guru, (3) kesejahteraan pegawai dan guru-guru, (4) rencana orientasi bagi tenaga guru yang baru, (5) kondite dan penilaian kemajuan guru- guru, dan (6) inservise training dan up-grading guru-guru dan sebagainya.

Di samping itu administrasi murid/siswa meliputi: (l) organisasi dan perkumpulan murid/siswa, (2) masalah kesehatan dan kesejahteraan murid/siswa, (3) pengukuran dan penilaian kemajuan/ hasil belajar murid/ siswa, serta (4) bimbingan dan penyuluhan bagi murid/ siswa.

Selanjutnya administrasi supervisi pengajaran meliputi (l) usaha membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru dan pegawai- pegawai tata usaha dalam menjalankan tugas masing-masing dengan sebaik- baiknya, (2) usaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode baru dalam mengajar dan belajar yang lebih baik, (3) mengusahakan dan mengembangkan kerjasama yang baik antara guru, murid, pegawai tata usaha sekolah, (4) mengusahakan cara-cara menilai hasil pendidikan dan pengajaran, dan (5) usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru (inservise training, up-grading) dan sebagainya.

Di lain pihak administrasi pelaksanaan dan pembinaan kurikulum meliputi (pedoman dan realisasi kurikulum yang diterapkan di sekolah, (2) menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum beserta materi-materi, sumber-sumber, dau metode-metode pelaksanaannya, dan (3) usaha pelaksanaan kurikulum dan sebagainya.

Selanjutnya administrasi perencanaan dan pendirian bangunan s kolah meliputi: (l) cara memilih letak dan menentukan luas tanah yang dibutuhkan, (2) mengusahakan, merencanakan, dan mengguna an laya pendirian bangunan gedung kantor/sekolah, (3) menentukan jum a an luas ruangan kelas, kantor, gedung, sarana lapangan olahraga, podium, kebun sekolah, (4) cara-cara penggunaan gedung sekolah dan fasilitas-fasilitas lainnya secara produktif, serta pemeliharannya secara berkelanjutan, dan (5) penggunaan dan pemeliharaan alat-alat sekolah dan alat-alat pengajaran yang dibutuhkan dan sebagainya.

Kemudian administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat yang meliputi: (l) hubungan sekolah dan sekolah lain, (2) hubungan sekolah dengan masyarakat setempat, (3) hubungan sekolah dengan instansi- instansi dan jawatan lain, (4) hubungan sekolah dengan masyarakat umum lainnya. Hubungan tersebut merupakan hubungan kerjasama yang bersifat paedagogis, sosiologis, dan produktif yang dapat mendatangkan keuntungan, perbaikan, dan kemajuan bagi kedua belah pihak.

Selanjutnya, H. M. Daryanto (2006: 24-26), mengelompokkannya ke dalam bidang-bidang berikut:

Bidang tata usaha sekolah, ini meliputi:

  • Organisasi dan struktur pegawai tata usaha
  • Anggaran belanja keuangan sekolah
  • Masalah kepegawaian dan personalia sekolah
  • Keuangan dan pembukuannya
  • Korespodensi/surat-menyurat
  • Masalah pengangkatan, pemindahan, penempatan sian buku induk, raport dan sebagainya.

Bidang personalia murid, yang meliputi antara lain:

  • Organisasi murid
  • Masalah kesehatan murid
  • Masalah kesejahteraan murid
  • Evaluasi kemajuan murid
  • Bimbingan dan penyuluhan bagi murid

Bidang personalia guru, meliputi antara lain:

  • Pengangkatan dan penempatan tenaga guru
  • Organisasi personel guru
  • Masalah kepegawaian
  • Masalah kondite dan evaluasi kemajuan guru 5 ) Refreshing dan up-grading guru-guru

Bidang pengawasan (supervisi), yang meliputi antara lain:

  • Usaha membangkitkan semangat guru-guru dan pegawai tata usaha dalam menjalankan tugasnya masing-masing sebaik-baiknya.
  • Mengusahakan dan mengembangkan kerjasama yang baik antara guru, murid, dan pegawai tata usaha sekolah.
  • Mengusahakan dan membuat pedoman cara-cara menilai hasil- hasil pendidikan dan pengajaran.
  • Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru pada umumnya.
  1. Bidang pelaksanaan dan pembinaan kurikulum
  • Berpedoman dan menerapkan apa yang tercantum dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan, dalam usaha mencapai dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran.
  • Melaksanakan organisasi kurikulum beserta metode-metodenya, disesuaikan dengan pembaruan pendidikan dan lingkungan masyarakat.

Kalau bidang-bidang tersebut diperas maka dapat dikelompokkan kepada tiga kelompok:

  • Administrasi material yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut bidang-bidang materi/benda-benda seperti ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan pendidikan, gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain.
  • Administrasi personil, yang meliputi administrasi personil guru-guru, pegawai-pegawai sekolah dan juga murid/siswa

 

  1. PENGERTIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  2. Pengertian Manajemen

Istilah manajemen berasal dan bahasa Inggris “management”, dipandang dari segi anti kata manajemen berarti pengelolaan.

Kamus istilah manajemen mengartikan manajemen sebagai (1) Proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. (2) Pejabat pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan atau organisasi.

Dapat pula manajemen diambil pengertian sebagai tata laksana untuk mencapai tujuan dan umumnya yang memegang police tata laksana yang disebut manajer (pimpinan, ketua, kepala). Manajer harus dapat melaksanakan, mengatur proses fungsi manajemen yang meliputi (1) perencanaan, (2) koordinasi / organisasi, (3) pengarahan, (4) kontrol / pengawasan dan (5) evaluasi / penilaian.

Secara umum manajemen dapat diidentifikasikan sebagai kemampuan atas ketrampilan memperoleh sesuatu hasil dalm rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Dan orang yang mengatur tata laksana kegiatan orang-orang yang terlibat pencapaian tujuan itu disebut manajer (pimpinan, ketua, kepala). Adapun secara khusus dalam dunia pendidikan, manajemen diartikan sebagai memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih manajemen sebagai aktivitas agar konsisten dengan istilah administrasi dengan administrator dalam mengemban misi sebagai atasan dan sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan serta sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.

  1. Manajemen Pendidikan Islam

Dari beberapa uraian manajemen dan pendidikan Islam ternyata adalah penggabungan dua ilmu yaitu manajemen dan pendidikan Islam. Menurut Prof. Dr. Mujamil Qomar manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.

Lebih lanjut definisi di atas dapat dijabarkan sebagai berikut untuk mempermudah pemahaman dan implikasi yang ada.

Pertama, proses pengelolaan lembaga pendidikan secara Islami. Dalam proses pengelolaan ini aspek yang ditekankan adalah nilai keislaman yang bersandar pada Al Qur’an dan Al Hadist. Misalnya terkait dengan pemberdayaan, penghargaan, kualitas, dll.

Kedua, lembaga pendidikan Islam. Fokus dan manajemen pendidikan Islam adalah menangani lembaga pendidikan Islam mulai dan pesantren, madrasah, perguruan tinggi dan sebagainya.

Ketiga, proses pengelolaan pendidikan Islam secara Islami. Proses pengelolaan harus sesuai dengan kaidah-kaidah Islam atau memakai kaidah-kaidah menejerial yang sifatnya umum tapi masih sesuai dengan nilai-nilai keislaman.

Keempat dengan cara menyiasati. Hal ini mengandung makna strategi, karena manajemen penuh siasat atau strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Demikian pula dengan manajemen pendidikan Islam yang selalu memakai strategi tertentu.

Kelima, sumber-sumber belajar dan hal-hal yang terkait. Sumber-sumber belajar di sini memiliki cakupan yang luas, yaitu:

  • Manusia, yang meliputi : guru, murid, pegawai dan pengurus
  • Bahan, yang meliputi buku, perpustakaan, dll
  • Lingkungan merupakan segala hal yang mengarah ke masyarakat
  • Alat dan peralatan seperti alat peraga, laboratorium, dsb
  • Aktivitas yang meliputi keadaan sosio politik, sosio kultural dalam masyarakat

Keenam, tujuan pendidika Islam. Tujuan merupakan hal yang vital yang mengendalikan dan mempengaruhi komponen-komponen dalam lembaga pendidikan agama Islam.

Ketujuh, efektif dan efisien. Artinya, manajemen yang berhasil mencapai tujuan dengan penghematan tenaga, waktu dan biaya.

Menurut Mujamil Qomar, perwujudan secara riil manajemen pendidikan Islam masih kalah dengan non muslim hal ini ditunjukkan oleh hal-hal di bawah ini :

  • Islam masih terbiasa dengan tradisi dakwah, ukan akademik
  • Dalam hal pendanaan Islam masih jauh dari kebutuhan.
  • Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan Islam masih kurang, masyarakat Islam jika mempunyai anak pandai di sekolahkan pada sekolah negeri.
  • Profesionalisme masyarakat muslim masih apa adanya.
  1. Fungsi Manajemen Pendidikan Islam

Menurut Mahdi bin Ibrahim, fungsi manajemen pendidikan Islam meliputi; Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

  1. Fungsi Perencanaan (planning)

Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hasyr: 18)

 

Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.

  1. Fungsi Pengorganisasian (organizing)

Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.

Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.

  1. Fungsi Pengarahan (directing)

Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu: Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.

  1. Fungsi Pengawasan (controlling)

Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil. Monitoring bukan hanya dilakuakan oleh manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencanaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.

  1. Karakteristik Manajemen Pendidikan Islam

Manajemen pendidikan Islam merupakan manajemen pendidikan yang berlabel Islam. Sudah barang tentu mempunyai karakteristik tersendiri. Karakteristik itu tidak lepas yang bersifat Islami.

Islam, menurut prof. Mujamil Qomar dapat dimaknai sebagai Islam wahyu dan Islam budaya. Isalm wahyu meliputi al Quran dan hadis-hadis Nabi, baik hadis Nabawi maupun hadis Qudsi. Sementara itu, Islam budaya meliputi ungkapan sahabat Nabi, pemhaman ulama, pemahaman cendekiawan Muslim dan budaya umat Islam. Kata Islam yang menjadi identitas manajemen pendidikan ini dimaksudkan dapat mencangkup makna keduanya, yakni Islam wahyu dan Islam budaya. Karena itu, pembahasan dalam manajemen melibatkan wahyu dan budaya kaum muslimin ditambah dengan kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara umum. Bahan-bahan keilmuan dalam manajemen pendidikan islam meliputi :

  1. Teks-teks wahyu, baik al Quran maupun hadis sahih sebagai pengendali bangunan rumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam.
  2. Aqwal (perkataan-perkataan) para sahabat Nabi, ulama, cendekiawan muslim sebagai pijakan logis argumentative dalam menjelaskan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam
  3. Perkembangan lembaga pendidika islam sebagai pijakan empiris dalam mendasari perumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam.
  4. Kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) dalam lembaga pendidikan islam sebagai pijakan empiris dalam merumuskan kemungkinan strategi yang khas dalam mengelola lembaga pendidikan islam
  5. Ketentuan kaidah- kaidah manajemen pendidikan sebagai pijakan teoritis dalam mengelola lembaga pendidikan isalm, dengan tetap melkukan kritik jika terdapat ketentuan-ketentuan atau prinsip-prinsip yang tidak relevan supaya sesuai dengan kondisi budaya yang terjadi dalam lembaga pendidikan islam.

 

BAGIAN KEDUA

  1. Pengertian Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam
    1. Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela,penuh semangat,ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.

Sedangkan pengertian kepemimpinan dalam pendidikan adalah (dalam hal ini kepala sekolah) merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan staf sekolah agar dapat bekerja secara efektif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan.

  1. Tipe atau Gaya Kepemimpinan

Tipe dan gaya kepemimpinan yang  pokok ada tiga, yaitu (1) otokratis, (2) laissez faire, (3) Demokratis

  1. Kepemimpinan yang Otokratis
  • Pemimpin bertindak sebagai dictator
  • Kekuasaan pemimipin hanya dibatasi undang undang
  • Penafsiran sebagai pemimpin hanyalah menunjukkan dan memberi perintah
  • Anggota tidak boleh membantah atau mengajukan saran
  • Pemimpin tidak menghendaki rapat atau musyawarah
  • Supervisi bagi pemimpin hanyalah mengontrol segala perintah perintah yang telah ia berikan untuk ditaati dan dijalani
  1. epemimpinan yang Laissez Faire
  • Pemimpin membiarkan orang berbuat sekehendaknya
  • Pemimipin sam sekali tidak memberikan kontrol, dan koreksi terhadap pekerjaan anggotnya.
  • Kekuasaan dan tanggung jawab bersimpang siur dan tidak teratur.
  • Tingkat keberhasilan organisasi semata mata disebabkan karena kesadaran anggota.
  • Struktur organisasinya tidak jelas dan kabur.
  1. Kepemimpinan yang Demokratis
  • Pemimpin bukan diktator akan tetapi merakyat
  • Hubungan dengan anggotanya berasas kekeluargaan
  • Pemimipin selalu berusaha menstimulasi anggota anggotanya agar bekerja secara kooperatif.
  • Mau menerima kritik dan saran dari kelompoknya.
  • Pemimpin selalu berusaha membangun semangat anggota.
  • Tipe demokrasi  merupakan tipe kepemimpinan yang paling baik terutama untuk kepemimpinan pendidikan.
    1. Kepemimpinan dalam Lembaga Pendidikan Islam

Salah satu bentuk kepemimpinan dalam lembaga pendidikan islam adalah kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan, karena ia merupakan pemimpin dilembaganya. Kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah.karena mereka merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh sekolah menuju tujuannya.sekolah yang efektif , bermutu, dan favorit tidak lepas dari peran kepala sekolahnya.maka ia harus mampu membawa lembaganya kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan,ia harus mampu melihat adanya perubahan serta mampu melihat masa depan dalam kehidupan global yang lebih baik.kepal sekolah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anak didiknya.

Sebagai pemimpin pendidikan yang professional,kepala sekolah dituntut untuk selalu mengadakan perubahan, mereka harus memiliki semangat yang berkesinambungan untuk mencari terobosan-terobosan baru demi menghasilkan suatu perubahan yang bersifat pengembangan dan penyempurnaan.dari kondisi yang memprihatinkan menjadi kondisi yang lebih dinamis, baik segi fisik maupun akademik ,seperti perubahan semangat keilmuan,atmosfer belajar dan peningkatan strategi pembelajaran.disamping itu, kepala sekolah juga harus berusaha keras menggerakkan para bawahannya untuk berubah ,setidaknya mendukung perubahan yang dirintis kepala sekolah secara proaktif,dinamis, bahkan progresif, system kerja para bawahan harus lebih kondusif, kinerja mereka harus dirangsang supaya meningkat, disiplin mereka harus dibangkitkan, sikap kerjasama mereka lebih dibudayakan, dan suasana harmonis diantara mereka lebih diciptakan.

Secara garis besar kualitas dan kompetensi kepala sekolah dapat dinila dari kinerjanya dalam mengaktualisasikan fungsi dan perannya sebagai kepala sekolah yaitu meliputi:

  1. Sebagai Pendidik (educator)
  2. Kemampuan membimbing guru dalam melaksanakan tugas
  3. Mampu memberikan alternative pembelajaran yang efektif
  4. Kemampuan membimbing bermacam-macam kegiatan kesiswaan
  5. Sebagai Manajer
  6. Kemampuan menyusun organisasi personal dengan uraian tugas sesuai dengan standar yang ada.
  7. Kemampuan menggerakkan stafnya dan segala sumber daya yang ada serta lebih lanjtu memberikan acuan yang dinamis dalam kegiatan rutin dan temporer.
  8. Kemampuan menyusun program secara sistematis.
  9. Sebagai Administrator
  10. Kemampuan mengelola semua perangkat KBM secara sempurna dengan bukti berupa data administrasi yang akurat.
  11. Kemampuan mengelola administrasi kesiswaan , ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, dan administrasi persuratan dengan ketentuan yang berlaku
  12. Sebagai Supervisor
  13. Kemampuan menyusun program supervise pendidikan dilembaganya yang dapat melaksanakan dengan baik
  14. Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi untuk peningkatan kinerja guru dan karyawan
  15. Kemampuan memanfaatkan kinerja guru atau karyawan untuk pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan
  16. Sebagai Pemimpin
  17. Memiliki kepribadian yang kuat
  18. Memahami semua personalnya yang memiliki kondisi yang berbeda, begitu juga kondisi siswanya berbeda dengan yang lainnya
  19. Memiliki upaya untuk peningkatan kesejahteraan guru dan karyawannya
  20. Sebagai Inovator
  21. Memiliki gagasan baru (proaktif) untuk inovasi dan perkembangan madrasah, memilih yang relevan untuk kebutuhan lembaganya
  22. Kemampuan mengimplementasikan ide yang baru dengan baik
  23. Kemampuan mengatur lingkungan kerja sehingga lebih kondusif
  1. Permasalahan di dalam Manajemen dan Kepemimpinan Lembaga Pendidikan Islam

Jenis dan bentuk konflik itu memiliki implikasi dan konsekuensi bagi manajer lembaga pendidikan islam. Karena, manajer memiliki peran yang fungsional dalam mengelola konflik dan diharapkan mampu mengelolanya sebaik mungkin sehingga menghasilkan kepuasan bagi semua pihak, terutama pihak yang berkonflik. Setidaknya, mereka tidak lagi membuat ulah yang berpotensi menyulut konflik baru pasca penyelesaian konflik.

Tugas seorang pemimpin lembaga pendidikan islam harus mampu menyelesaikan permasalahan atau konflik yang sedang dihadapinya, seperti:

  1. Konflik diri sendiri, seperti kepela madrasah pada waktu yang sama dihadapkan pada pilihan dilematik antara pergi kemadrasah tepat waktu sebagaimana ketentuan yang sudah disepakati atau kepentingan mengantar istri kepasar karena memilikihajatyang sangat peting. Memilih dua kepentingan ini benar-benar menimbulkan konflik dalam dirinya yang sama-sama beresiko. Dan ternyata tidak banyak kepala madrasah yang memilih pergi kemadrasah tepat waktu sebagai teladan bagi bawahannya dengan menunda kepentingan keluarga (istri).
  2. Konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan. Konflik antar pemimpin ini angat menggangu proses pembelajaran dan tentu berdampak negatif pada mutu hasil pembelajaran atau pendidikan. Konflik semacam ini merupakan konflik tingkat tinggi, karena terjadi pertentangan antar pimpinan, yaitu konflik antar pimpinan penyelenggara pendidikan (ketua yayasan) dengan pimpinan pelaksana pendidikan (kepala madrasah). Di Indonesia disinyalir banyak yayasan yang mengaharapkan pendapatan finansial dari pelaksana pendidikan, padahal pihak pelaksana pendidikan sendiri juga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar madrasah
  3. Konflik antar pemimpin madrasah dengan guru, dalam hal ini hubungan antar pemimpin madrasah dengan guru kadang tidak harmonis, dikarenakan adanya perbedaan pendapat  dalam musyawarah ataupun dalam penyelesaian masalah. Hal semacam ini sering terjadi di madrasah-madrasah.
  4. Konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua komite (masalah dana pembiayaan operasional madrasah). Seperti, dalam rapat untuk penentuan dana pembanguna madrasah, adanya perselisihan pendapat antar keduanya dalam pengambilan keputusan dana tersebut.

Beberapa factor yang menyebabkan lemahnya manajemen pendidikan Islam pada saat ini sebagai berikut:

  1. Islam masih terbiasa dengan tradisi dakwah, ukan akademik
  2. Dalam hal pendanaan Islam masih jauh dari kebutuhan.
  3. Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan Islam masih kurang, masyarakat Islam jika mempunyai anak pandai di sekolahkan pada sekolah negeri.
  4. Profesionalisme masyarakat muslim masih apa adanya.

 

  1. Solusi atas Permasalahan di dalam Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam
  2. Untuk mengatasi konflik pribadi diatas hendaknya seorang pemimpin mempunyai keprofesionalan untuk membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan lembaga. Seorang pemimpin harus mengutamakan kepentingan lembaga diatas kepentingan pribadi.
  3. Dalam hal mengatasi konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan seperti diatas, diperlukan suatu upaya untuk menyinkronkan permasalahan. Kedua belah pihak perlu bertemu untuk membahas dan merumuskan jalan keluar dari permasalahan yang ada sehingga tercapailah suatu kemufakatan untuk kepentingan bersama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Fungsi manajemen pendidikan Islam meliputi; Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

Permasalahan yang sering terjadi dalam lembaga pendidikan Islam antara lain : konflik diri sendiri, konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan, konflik antar pemimpin madrasah dengan guru, konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua komite (masalah dana pembiayaan operasional madrasah). Solusi atas permaslahan tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk mengatasi konflik pribadi diatas hendaknya seorang pemimpin mempunyai keprofesionalan untuk membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan lembaga.
  2. Dalam hal mengatasi konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan seperti diatas, diperlukan suatu upaya untuk menyinkronkan permasalahan.IDENTITAS BUKU

    Judul Buku                  : Manajemen & Kepemimpinan Pendidikan Islam

    Pengarang                   : Prof. DR. H Ramayulis & DR. Mulyadi S.Ag,M.Pd

    Penerbit                       : Kalam Mulia Jakarta

    Tahun                          : 2017

    Jumlah Halaman          : 290

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB II

    PEMBAHASAN

     

    BAGIAN PERTAMA :

    1. PENGERTIAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
    2. Pengetian Administrasi
    3. Etimologis

    Kata “administrasi” berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari kata ad dan ministrate. Kata ad berarti intensif, sedangkan ministrate artinya melayani, membantu, atau mengarahkan. Jadi pengertian administrasi adalah melayani secara intensif. Dari perkataan “administrasi” terbentuk kata benda administratio dan kata administravius yang kemudian masuk ke dalam bahasa inggris “ad” dan “ministro”. Ad mempunyai arti “kepada” dan ministro berarti “melayani”. Dengan demikian dapat diartikan bahwa administrasi merupakan pelayanan atau pengabdian terhadap subjek tertentu. Memang, pada masa lalu administrasi dikenakan kepada pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian atau pelayanan kepada raja atau menteri-menteri dalam tugas mengelola pemerintahannya.

    Dalam arti yang sempit, kata administrasi sama dengan tata usaha (ojfice work) yaitu kegiatan tulis menulis di kantor (clerical work) yang dilakukan secara sistematis, dan mencakup kegiatan menerima, mencatat, mengagendakan, mengolah, menggandakan, mengirim, menghimpun, menyelenggarakan kearsipan dan dokumentasi, menetapkan sistem kerja, mengadakan standarisasi bentuk-bentuk formulir dan ukuran kertas, dan menjaga keharmonisan kerjasama di antara personil yang ada pada suatu organisasi.

    Dengan demikian pekerjaan ketatausahaan atau ketatalaksanaan itu berfungsi sebagai pengumpulan, pencatatan, dan pengolahan suart-surat atau data yang diperlukan secara sistematis untuk memperoleh gambaran yang komprehensif serta tata hubungan satu sama lain dari berbagai data dan informasi yang diterima.

    Sedangkan dalam arti yang luas, administrasi dapat diartikan, segala kegiatan sekelompok manusia, melalui tahapan-tahapan yang teratur dan dipimpin secara efektif dan efisien dengan menggunakan segala sarana, prasarana, dan fasilitas yang tersedia baik personal, material, dan spiritual agar tercapainya tujuan yang diinginkan.

    Dengan demikian pekerjaan ketatausahaan atau ketatalaksanaan itu berfungsi sebagai pengumpulan, pencatatan dan pengolahan surat- surat atau data yang diperlukan secara sistematis untuk memperoleh gambaran yang komprehensif serta tata hubungan satu sama Ia.n dan berbagai data dan informasi yang diterima.

    Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa kegiatan administrasi tidak terbatas pada ketatausahaan saja, akan tetapi mencakup semua rangkaian pengendalian usaha kerjasama kelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama.

    1. Terminologi

    Secara terminologi, bermacam-macam rumusan para ahli tentang administrasi, diantaranya :

    Sondang P. Siagian (1974:2), administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu, untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

    Herbart Simon (1959):3) administrasi itu sebagai kegiatan sekelompok orang yang secara bersama-sama berusaha untuk mencapai tujuan bersama.

    The Liang Gie (1970), administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilaksanakan oleh sekelompok orang dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu.

    Depdikbud, dalam Pedoman Pelaksanaan Kurikulum buku III SD, administrasi ialah usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber (personel maupun material) secara efektif dan efisien untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

    Henri Fayol (1841-1929), administrasi adalah fungsi dalam organisasi niaga yang unsur-unsurnya adalah perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian, dan pengawasan. Teori administrasi dapat diterapkan pada semua bentuk organisasi kerjasama manusia yang menekankan rasionalisme dan konsistensi logis. Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari berbagai kegiatan yang berhubungan dan bersambungan.

    Ordway Tead (1953), administrasi adalah usaha yang luas mencakup segala bidang untuk memimpin, mengusahakan, mengatur kegiatan kerjasama manusia yang ditujukan pada tujuan-tujuan dan maksud-maksud tertentu.

    John M. Pfiffner (1960), mengemukakan administrasi adalah suatu kegiatan proses terutama mengenai cara-cara (alat-alat) saran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Administrasi juga dapat dirumuskan sebagai pengorganisasian dan pengarahan sumber daya manusia, tenaga kerja, dan materi untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Dalam konteks negara, administrasi adalah penyelenggaraan kebijaksanaan publik yang telah ditetapkan oleh badan-badan perwakilan politik.

    Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa administrasi adalah rangkaian kegiatan bersama sekelompok manusia secara sistematis untuk menjalankan roda suatu usaha atau misi organisasi agar dapat terlaksana, suatu usaha dengan suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan secara bersama.

    Kalau dianalisis pembahasan tersebut di atas tampak bahwa, kegiatan manusia yang disebut administrasi mengandung tiga faktor yaitu: (l) tujuan tertentu sebagai tujuan organisasi maupun tujuan antara dari setiap kegiatan yang telah ditentukan sebelumnya, (2) aktivitas atau proses kegiatan manusia sebagai gejala sosial berlangsung dalam interaksi antar sejumlah manusia yang diuraikan dalam setiap unit kerja, yaitu untuk mencapai tujuan tersebut yang dilakukan secara teratur, terorganisir dan sistematis, dan (3) rangkaian itu berupa usaha kerjasama untuk mencapaiu tujuan bersama atau “achievement of goal” yaitu tercapainya tujuan melalui pembagian tuga sdalam satu kesatuan kerja, dengan melakukan pengawasan terhadap mutu yang diharapkan.

    1. Pengertian Pendidikan
    2. Etimologis

    Dalam bahasa Indonesia, istilah pendidikan berasap dan kata “didik” dengan memberikan awalan “pe” dan akhiran an, mengan- dung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu pa yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Dalam paedagogos adanya seorang pelayan atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Paedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Perkataan yang mulanya berarti “rendah” (pelayan, bujang), sekarang dipakai untuk pekerjaan mulia. Paedagogos (pendidik atau ahli didik) ialah seseorang yang tugasnya membimbing anak. Sedangkan pekerjaan membimbing disebut paedagogis. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan education yang berarti pengembangan atau bimbingan. (Ramayulis, 2012: 30)

    1. Terminologi

    Secara terminologi banyak sekali istilah pendidikan yang dikemukakan baik yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan Indonesia, Barat, maupun istilah yang dikembangkan dalam sistem Pendidikan Nasional. Dibawah ini dicantumkan beberapa definisi yang dapat mewakili masing-masingnya.

    • Ahmad D Mariba (1987:13), menjelaskan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani di terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

    Merimban menekankan pengertian pendidikan pada pengembangan jasmani dan rohani menuju kesempurnaannnya, sehingga terbina kepribadian yang utama, suatu kepribadian yang seluruh aspeknya sempurna dan seimbang. Untuk mewujudkan kesempurnaan tersebut dibutuhkan bimbingan yang serius dan sistematis dari pendidik.

    • Hasan Langgulung (1980: 94), mengemukakan bahwa pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi; pertama, dari sudut pandangan masyarakat; kedua, dari sudut pandangan individu. Dari sudut pandangan masyarakat pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua ke generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan, dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai- nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara. Dilihat dari segi pandangan individu, pendidikan berarti pengembangan potensi- potensi yang terpendam dan tersembunyi. Manusia mempunyai berbagai bakat dan kemampuan yang kalau dikelola secara cerdas bisa berubah menjadi emas dan intan.
    • Coser, dkk (1983: 380) mengemukakan, “education is the deliberate formal transfer of know ledge, skill and value from one person to another person”. Dari defenisi ini, pendidikan dipandang sebagai usaha sengaja untuk mentransfer ilmu pengetahuan, skill, dan nilai-nilai dari guru kepada siswanya. Artinya ada tiga dimensi pokok yang perlu ditanamkan kepada diri siswa, yaitu pengetahuan, keterampilan untuk bisa melanjutkan hidup, dan nilai-nilai agar dapat bersikap ramah dan baik terhadap sesama.
    • Carter V. Good ( 1959) menjelaskan, “the education is the sistematized learning or instruction concerning principles and methods of teaching and of student control and guidance; largely replaced by the term education”. Dari penjelasan Carter V. Good tersebut, dapat dimaknai bahwa pendidikan adalah seni, praktik atau profesi sebagai pengajar, ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip atau metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid dalam arti yang luas digantikan dengan istilah pendidikan.
    • Menurut undang-undang NO.20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS bab I mengatakan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untu memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlu- kan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

    Defenisi terakhir ini termasuk perumusan pendidikan yang paling baik dan sempurna saat ini di Indonesia. Defenisi inilah yang menjadi acuan masyarakat dan bangsa Indonesia. Walaupun dari beberapa defenisi di atas terdapat perbedaan dalam merumuskan istilah pendidikan, namun dari semua defenisi tersebut terdapat beberapa persamaan, yaitu:

    • Adanya usaha sadar dan terencana dalam bimbingan, yang disebut dengan “proses pendidikan”.
    • Adanya orang (subjek) yang melakukan bimbingan yang disebut “pendidik”.
    • Adanya orang (subjek) yang dibimbing, yang disebut “peserta didik”.]
    • Adanya tujuan yang akan dicapai yang disebut dengan “tujuan” atau “kompetensi”.
    1. Pengertian Pendidikan Islam
    2. Etimologis

    Dalam konteks Islam, pendidikan secara secara bahasa (Lughatan) ada tiga yang digunakan. Ketiga kata tersebut, yaitu (1) at-tarbiyah, (2) at-ta’lim, (3) at-ta’dib. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang berkaitan saling cocok untuk pemaknaan pendidikan dalam Islam. Ketiga makna itu mengandung makna yang amat dalam, menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam gubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain.

    1. Terminologis

    Pendidikan Islam menurut istilah dirumuskan oleh pakar pendidikan Islam, sesuai dengan persepsi masing-masing. Di antara rumusan tersebut adalah sebagai berikut:

    • Al-Absyari (tt: 100), memberikan pengertian bahwa tarbiyah adalah mempersiapkan manusiawan supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan atau tulisan. Abrasyi menekankan pendidikan pencapaian kesempurnaan dan kebahagiaan hidup.
    • Hasan Langgulung (1980: 87), mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang di- selarasikan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.” Langgulung menekankan pendidikan Islam pada mempersiapkan generasi muda dengan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam untuk mampu berusaha di atas dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
    • Omar Mohammad al-Thoumi Al-Syaibani (1979: 339), menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan tingkah laku, dari yang buruk menuju yang baik, dari yang minimal menuju yang maksimal, dari yang potensial menuju aktual, dari yang pasif menuju aktif. Cara mengubah tingkah laku itu melalui proses pembelajaran. Perubahan tingkah laku tidak saja terhenti pada level individu, tetapi juga mencakup level masyarakat (etika sosial), sehingga melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki kesalehan sosial.
    • Menurut rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia yang ke 2, pada tahun 1980 di Islamabad, bahwa pendidikan harus ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan personalia manusia secara menyeluruh, dengan cara lain melatih jiwa, akal, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikian pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia pada seluruh aspeknya : spritiual, intelektual, daya imajinasi, fisik keilmuan dan bahasa , btuk secara individual maupun kelompok serta mendorong seluruh aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan diarahkan pada upaya merealisasikan penga lan manusia kepada Allah, baik pada tingkat individual, masyarakat, dan kemanusiaan secara luas.

    Berdasarkan hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 dirumuskan, pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Pengertian di atas dikomentari oleh Abdul Mujib, bahwa pendidikan Islam berupaya mengarahkan pada keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, melalui bimbingan, pengarahan, pengajaran, pelatihan, pengasuhan dan pengawasan, yang kesemuanya dalam koridor ajaran Islam.

    Dari semua rumusan yang dikemukakan para ahli pendidikan di atas, serta beberapa pemahaman yang diperoleh dari beberapa istilah dalam pendidikan Islam, seperti tarbiyah, ta’lim, ta’dib dan istilah lainnya, maka pendidikan Islam daoat dirumuskan sebagai berikut :

    “proses internalisasi pengetahuan da nilai-nilai Islam kepada peserta didik melaui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup didunia dan akherat.

    1. Pengertian Administrasi Pendidikan

    Secara umum dikatakan bahwa administrasi pendidikan merupakan aplikasi ilmu administrasi dalam kegiatan pembinaan, pengembangan dan pengendalian usaha-usaha pendidikan yang diselenggarakan dalam bentuk kerjasama sejumlah orang dengan menggunakan segala sarana dan prasarana yang tersedia baik moral material dan spiritual agar tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

    Karena itu, administrasi pendidikan merupakan serangkaian kegiatan atau proses yang berkelanjutan menggunakan prinsip-prinsip administrasi. Kegiatan administrasi pendidikan dalam rangka memanfaatkan semua potensi atau sumber daya yang tersedia, untuk mencapai tujuan yang diperjuangkan agar terpenuhi secara efektif dan efisien. Kegiatan atau aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifatnya ataupun pelaksanaannya disebut fungsi. Aktivitas-aktivitas tersebut digabungkan menjadi satu kesatuan dan diserahkan menjadi tanggung jawab seseorang yang bertanggung jawab terhadap organisasi tertentu.

    1. Pengertian Administrasi Pendidikan menurut para Ahli

    Walaupun secara umum dikatakan bahwa administrasi pendidikan adalah implikasi administrasi pada kegiatan pendidikan, namun para ahli juga merumuskan defenisi administrasi pendidikan sesuai dengan persepsi masing-masing.

    Ngalim Purwanto (1979), “Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal, spiritual dan material, yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan.” Selanjutnya dikatakan bahwa proses administrasi pendidikan melibatkan segenap usaha dalam proses pencapaian tujuan pendidikan itu yang diintegrasikan, diorganisasikan, dan dikoordinasikan secara efektif agar semua materi yang diperlukan dapat dimanfaatkan secara efisien.

    1. Engkoswara, “Administrasi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari penataan sumber daya manusia, yaitu kurikulum dan fasilitas untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal dan penciptaan suasana yang baik bagi manusia dalam mencapai tujuan pendidikan.”
    2. Hadari Nawawi (1979), “Administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis
    3. Engkoswara, “administrasi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari penataan sumber daya manusia, yaitu kurikulu dan fsilitas untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal dan penciptaan suasana yang baik bagi manusia dalam mencapai tujuan pendidikan.”
    4. Hadari Nawawi (1979), “administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan dalam lingkungan tertentu, terutama dalam lembaga formal.
    5. Jese B Sears, dalam The Nautre of administration process, 1950 “educational administration is the proces as including the following activites planning, organization, direction, coordination, and controll.
    6. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Kurikulum usaha Perbaikan dalam Bidang Pendidikan dan Administrasi Pendidikan. Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, pembiayaan, dan pelaporan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

    Dari beberapa pengertian administrasi pendidikan yang dikemukakan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa :

    • Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, pembiayaan, dan pelaporan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
    • Administrasi pendidikan adalah suatu cara bekerja dengan orang- orang, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang efektif, yang berarti mendatangkan hasil yang baik dan tepat, sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
    • Administrasi pendidikan itu bukan hanya sekedar kegiatan “tata usaha” sepert yang dilakukan dikantor-kantor tata usaha sekolah atau kantor-kantor inspeksi pendidikan lainnya.
    • Administrasi pendidikan merupakan kegiatan manusia atau sebagai gejala sosial karena didalamnya terjadi interaksi antar sejumlah manusia.
    1. Pengertian Administrasi Pendidikan Islam

    Secara umum pengertian administrasi pendidikan Islam sama dengan administrasi pendidikan; yaitu penerapan atau implementasi ilmu administrasi dalam dunia pendidikan atau sebagai penerapan administrasi dalam pembinaan, pengembangan, dan pengendalian usaha dan praktek-praktek pendidikan Islam. Praktek pendidikan ini dilakukan oleh pemerintah sebagai pihak yang memberikan pelayanan kebutuhan penyelenggaraan sekolah/madrasah dan pendidikan dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai pihak yang memberikan pelayanan belajar kepada peserta didiknya melalui kegiatan pembelajaran.

    Walaupun administrasi pendidikan dan administrasi pendidikan Islam memiliki persamaan yaitu berupa “implementasi administrasi”, namun ada perbedaan antara administrasi pendidikan dengan administrasi pendidikan Islam.

    Administrasi pendidikan merupakan hasil pemikiran manusia semata, sedangkan administrasi pendidikan Islam merupakan hasil pemikiran manusia yang dijiwai dan dinafasi oleh prinsip-prinsip dasar administrasi yang terdapat dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW sebagai dasar ajaran Islam.

     

    1. BEBERAPA PEMAHAMAN YANG TERKANDUNG DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN

    Menurut Asnawir (2004 : 4), administrasi pendidikan pada hakikatnya mengandung berbagai pengertian:

    Pertama, administrasi pendidikan itu berupa kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan dimaksud mulai dari yang sederhana sampai kepada tujuan yang kompleks, yang sangat ditentukan oleh lingkup dan tingkat pengertian dari pendidikan tersebut, yaitu mulai dari tujuan instruksional, tujuan kurikuler, tujuan institusional, dan sampai pada tujuan nasional. Dengan kata lain mulai dari tujuan sederhana sampai kepada tujuan kompleks.

    Kedua, administrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian.

    Perencanaan merupakan kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, berapa lama waktu yang digunakan serta biaya yang diperlukan. Perencanaan itu merupakan kegiatan awal atau kegiatan yang dibuat sebelum tindakan dilakukan.

    Pengorganisasian merupakan kegiatan membagi-bagi tugas atau menentukan job dari orang-orang yang terlibat dalam kerjasama pendidikan tersebut. Oleh karena tugas-tugas dalam pendidikan tersebut cukup banyak, dan melibatkan beberapa orang, diperlukan adanya pembahagian tugas atau menegelompokkan tugas (job qualification), yang diikuti dengan pendeskripsian tugas (job description) untuk masing-masing orang atau masing -masing orang atau personal yang terlibat.

    Berikutnya pengkoordinasian dimaksudkan agar tugas yang telah dibagi-bagi tersebut tidak tumpang tindih antara satu sama lainnya, dan dikerjakan tidak menurut kehendak sendiri-sendiri atau masing-masing orang, tetapi harus menurut aturan yang telah ditetapkan dan telah disepakati bersama. Untuk itu sangat diharapkan agar setiap tugas tersebut harus dikoordinasikan antara satu dengan lainnya.

    Berikutnya, pengarahan dimaksudkan agar jangan terjadi penyimpangan dari tujuan yang ingin dicapai, sehingga semua orang yang berker ja berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetaipkan sebelumnya, tetap ingat dan konsisten terhadap tujuan dimaksud. Dengan jalan demikian setiap orang yang bekerja akan selalu terarah untuk mencapai tujuan dimakmuri

    Di samping itu perlu adanya pemantauan (monitoring) terhadap kegiatan yang dilakukan. Dalam pemantauan tersebut, diusahakan untuk mengumpulkan data yang relevan, sampai dimana tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai, serta kendala apa yang ditemui dalam pencapaian tujuan tersebut. Pemantauan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan bukti-bukti atau data sehubungan dengan kerjasama yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

    Ketiga, administrasi pendidikan merupakan suatu sistem, yaitu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang berinteraksi untuk mengubah masukan menjadi keluaran, atau untuk mengubah data menjadi informasi. Melalui peninjauan terhadap komponen-komponen atau unsur-unsur tersebut serta hubungan antara satu sama lainnya, akan dapat diketahui kekurangan-kekurangannya dari sistem tersebut, sehingga akan dapat dicarikan jalan keluarnya untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dimaksud. Begitu juga akan dapat dilakukan perbaikan dari komponen- komponen atau melakukan pengembangannya.

    Keempat, administrasi pendidikan juga dapat dilihat sebagai suatu manajemen, dimana akan dapat diketahui sumber-sumber yang ada dalam mencapai tujuan pendidikan. Sumber tersebut dapat berupa manusia, uang, sarana, dan prasarana, maupun waktu yang tersedia. Semua sumber-sumber tersebut harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga bermanfaat dan berguna dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai contoh sejauh mana kepala sekolah dapat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melakukan evaluasi tentang program-program yang telah dilaksanakan. Kalau sekiranya kepala sekolah tidak dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan evaluasi terhadap program-program yang telah dilaksanakan secara baik, sehingga tidak dapat diketahui mana program yang harus diperbaiki dan mana pula yang harus diikembangkan.

    Kelima, administrasi pendidikan juga dapat dipandang sebagai kepemimpinan, sejauh mana seorang administrator pendidikan dapat mempengaruhi orang lain bekerjasama dengannya dalam usaha mencapai tujuan yang diharapkan. Begitu juga sejauh mana pemimpin tersebut dapat memotivasi bawahan agar mau bekerja atau melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati sebelumnya. Seorang pemimpin pendidikan dalam kepemimpinannya dapat menggunakan moto “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karson tut wari handayani”. Dengan berpedoman kepada moto tersebut seorang pemimpin pendidikan akan mampu menggerakkan orang lain untuk bekerja lebih giat dengan jalan mampu mempengaruhi dan mengawasi bawahan, dan mampu menciptakan kerjasama dan memberikan contoh.

    Keenam, administrasi pendidikan juga merupakan proses pengambilan keputusan, yaitu memilih kemungkinan tindakan yang terbaik dari sejumlah kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan. Seorang pemimpin gharus mampu mengambil keputusan yang baik dan tepat, karena pengambilan keputusan tersebut akan mengandung resiko. Pengambilan keputusan yang salah akan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap pelaksanaan dan pengajaran, sekaligus akan mempengaruhi terhadap pencapaia tujuan pendidikan.

    Ketujuh administrasi pendidikan juga merupakan proses komunikasi, yaitu hubungan timbal balik antara komunikator denga komunikan, antara pemimpin dengan bawahan. Dalam proses komunikasi tersebut diharapkan agar orang lain mengerti apa yang kita maksudkan, dan kita btankeputusan tersebut akan mengandung resiko. Pengambilan keputusan yang salah akan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, sekaligus akan mempengaruhi terhadap komunikan, antara atasan dengan bawahan, dan juga antara sesama bawahan. Komunikasi tersebut dapat diibaratkan sebagai pelumas pada kendaraan, tanpa pelumas maka kendaraan tersebut tidak akan dapat berjalan dengan lancar. Begitu juga halnya dengan komunikasi pada suatu pencapaian tujuan pendidikan. juga mengerti apa yang dimaksudkan orang lain. Tanpa komunikasi yang baik, tidak akan dapat diciptakan kerjasama yang baik antara komunikator dengan organisasi, tanpa komunikasi yang baik maka organisasi tersebut juga tidak akan berjalan dengan baik, dan akan terjadi saling curiga mencurigai, saling tuding, dan menjelekkan antara satu dengan lainnya.

    Kedelapan, administrasi pendidikan juga diartikan dengan kegiatan ketatausahaan, yaitu kegiatan catat-mencatat, mendokumentasikan menyelenggarakan surat-menyurat dengan segala aspeknya, dan kegiatan pelaporan. Kegiatan semacam ini memang kegiatan yang selalu terjadi dalam

    snatn orcramsasi

    1. RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN

    Bidang-bidang yang tercakup dalam manajemen pendidikan sangat banyak dan luas. Setiap pakar pendidikan mengelompokkan sesuai dengan prinsip masing-masing.

    Ngalim Purwanto (1987:11-14)

    Ngalim Purwanto mengelompokkan ruang lingkup administrasi pendidikan kepada tujuh kelompok, yaitu: (l) tata laksana sekolah, (2) administrasi guru dan pegawai sekolah, (3) administrasi murid/siswa, (4) administrasi supervisi pengajaran, (5) administrasi pelaksanaan dan pembinaan kurikulum, (6) administrasi perencanaan dan pendirian bangunan sekolah, (7) administrasi hubungan sekolah dan masyarakat.

    Administrasi tatalaksana sekolah meliputi: (l) organisasi dan struk- tur pegawai tata usaha, (2) otorisasi dan anggaran belanja sekolah, (3) kepegawaian dan kesejahteraan personalia sekolah, (4) perlengkapan dan perbekalan, (5) keuangan dan pembukuan, (6) korespodensi dan surat- menyurat, (7) laporan-laporan (bulanan, kuartal, dan tahunan), (8) pe- ngangkutan, pemindahan, penempatan, dan pemberhentian pegawai, dan (9) pengisian buku pokok, buku klaper, buku rapor dan sebagainya.

    Berikutnya administrasi guru dan pegawai sekolah meliputi (1) pengangkatan dan penempatan tenaga guru-guru, (2) organisasi personil guru-guru, (3) kesejahteraan pegawai dan guru-guru, (4) rencana orientasi bagi tenaga guru yang baru, (5) kondite dan penilaian kemajuan guru- guru, dan (6) inservise training dan up-grading guru-guru dan sebagainya.

    Di samping itu administrasi murid/siswa meliputi: (l) organisasi dan perkumpulan murid/siswa, (2) masalah kesehatan dan kesejahteraan murid/siswa, (3) pengukuran dan penilaian kemajuan/ hasil belajar murid/ siswa, serta (4) bimbingan dan penyuluhan bagi murid/ siswa.

    Selanjutnya administrasi supervisi pengajaran meliputi (l) usaha membangkitkan dan merangsang semangat guru-guru dan pegawai- pegawai tata usaha dalam menjalankan tugas masing-masing dengan sebaik- baiknya, (2) usaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode baru dalam mengajar dan belajar yang lebih baik, (3) mengusahakan dan mengembangkan kerjasama yang baik antara guru, murid, pegawai tata usaha sekolah, (4) mengusahakan cara-cara menilai hasil pendidikan dan pengajaran, dan (5) usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru (inservise training, up-grading) dan sebagainya.

    Di lain pihak administrasi pelaksanaan dan pembinaan kurikulum meliputi (pedoman dan realisasi kurikulum yang diterapkan di sekolah, (2) menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum beserta materi-materi, sumber-sumber, dau metode-metode pelaksanaannya, dan (3) usaha pelaksanaan kurikulum dan sebagainya.

    Selanjutnya administrasi perencanaan dan pendirian bangunan s kolah meliputi: (l) cara memilih letak dan menentukan luas tanah yang dibutuhkan, (2) mengusahakan, merencanakan, dan mengguna an laya pendirian bangunan gedung kantor/sekolah, (3) menentukan jum a an luas ruangan kelas, kantor, gedung, sarana lapangan olahraga, podium, kebun sekolah, (4) cara-cara penggunaan gedung sekolah dan fasilitas-fasilitas lainnya secara produktif, serta pemeliharannya secara berkelanjutan, dan (5) penggunaan dan pemeliharaan alat-alat sekolah dan alat-alat pengajaran yang dibutuhkan dan sebagainya.

    Kemudian administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat yang meliputi: (l) hubungan sekolah dan sekolah lain, (2) hubungan sekolah dengan masyarakat setempat, (3) hubungan sekolah dengan instansi- instansi dan jawatan lain, (4) hubungan sekolah dengan masyarakat umum lainnya. Hubungan tersebut merupakan hubungan kerjasama yang bersifat paedagogis, sosiologis, dan produktif yang dapat mendatangkan keuntungan, perbaikan, dan kemajuan bagi kedua belah pihak.

    Selanjutnya, H. M. Daryanto (2006: 24-26), mengelompokkannya ke dalam bidang-bidang berikut:

    Bidang tata usaha sekolah, ini meliputi:

    • Organisasi dan struktur pegawai tata usaha
    • Anggaran belanja keuangan sekolah
    • Masalah kepegawaian dan personalia sekolah
    • Keuangan dan pembukuannya
    • Korespodensi/surat-menyurat
    • Masalah pengangkatan, pemindahan, penempatan sian buku induk, raport dan sebagainya.

    Bidang personalia murid, yang meliputi antara lain:

    • Organisasi murid
    • Masalah kesehatan murid
    • Masalah kesejahteraan murid
    • Evaluasi kemajuan murid
    • Bimbingan dan penyuluhan bagi murid

    Bidang personalia guru, meliputi antara lain:

    • Pengangkatan dan penempatan tenaga guru
    • Organisasi personel guru
    • Masalah kepegawaian
    • Masalah kondite dan evaluasi kemajuan guru 5 ) Refreshing dan up-grading guru-guru

    Bidang pengawasan (supervisi), yang meliputi antara lain:

    • Usaha membangkitkan semangat guru-guru dan pegawai tata usaha dalam menjalankan tugasnya masing-masing sebaik-baiknya.
    • Mengusahakan dan mengembangkan kerjasama yang baik antara guru, murid, dan pegawai tata usaha sekolah.
    • Mengusahakan dan membuat pedoman cara-cara menilai hasil- hasil pendidikan dan pengajaran.
    • Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru pada umumnya.
    1. Bidang pelaksanaan dan pembinaan kurikulum
    • Berpedoman dan menerapkan apa yang tercantum dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan, dalam usaha mencapai dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran.
    • Melaksanakan organisasi kurikulum beserta metode-metodenya, disesuaikan dengan pembaruan pendidikan dan lingkungan masyarakat.

    Kalau bidang-bidang tersebut diperas maka dapat dikelompokkan kepada tiga kelompok:

    • Administrasi material yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut bidang-bidang materi/benda-benda seperti ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan pendidikan, gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain.
    • Administrasi personil, yang meliputi administrasi personil guru-guru, pegawai-pegawai sekolah dan juga murid/siswa

     

    1. PENGERTIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
    2. Pengertian Manajemen

    Istilah manajemen berasal dan bahasa Inggris “management”, dipandang dari segi anti kata manajemen berarti pengelolaan.

    Kamus istilah manajemen mengartikan manajemen sebagai (1) Proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. (2) Pejabat pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan atau organisasi.

    Dapat pula manajemen diambil pengertian sebagai tata laksana untuk mencapai tujuan dan umumnya yang memegang police tata laksana yang disebut manajer (pimpinan, ketua, kepala). Manajer harus dapat melaksanakan, mengatur proses fungsi manajemen yang meliputi (1) perencanaan, (2) koordinasi / organisasi, (3) pengarahan, (4) kontrol / pengawasan dan (5) evaluasi / penilaian.

    Secara umum manajemen dapat diidentifikasikan sebagai kemampuan atas ketrampilan memperoleh sesuatu hasil dalm rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Dan orang yang mengatur tata laksana kegiatan orang-orang yang terlibat pencapaian tujuan itu disebut manajer (pimpinan, ketua, kepala). Adapun secara khusus dalam dunia pendidikan, manajemen diartikan sebagai memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih manajemen sebagai aktivitas agar konsisten dengan istilah administrasi dengan administrator dalam mengemban misi sebagai atasan dan sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan serta sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.

    1. Manajemen Pendidikan Islam

    Dari beberapa uraian manajemen dan pendidikan Islam ternyata adalah penggabungan dua ilmu yaitu manajemen dan pendidikan Islam. Menurut Prof. Dr. Mujamil Qomar manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.

    Lebih lanjut definisi di atas dapat dijabarkan sebagai berikut untuk mempermudah pemahaman dan implikasi yang ada.

    Pertama, proses pengelolaan lembaga pendidikan secara Islami. Dalam proses pengelolaan ini aspek yang ditekankan adalah nilai keislaman yang bersandar pada Al Qur’an dan Al Hadist. Misalnya terkait dengan pemberdayaan, penghargaan, kualitas, dll.

    Kedua, lembaga pendidikan Islam. Fokus dan manajemen pendidikan Islam adalah menangani lembaga pendidikan Islam mulai dan pesantren, madrasah, perguruan tinggi dan sebagainya.

    Ketiga, proses pengelolaan pendidikan Islam secara Islami. Proses pengelolaan harus sesuai dengan kaidah-kaidah Islam atau memakai kaidah-kaidah menejerial yang sifatnya umum tapi masih sesuai dengan nilai-nilai keislaman.

    Keempat dengan cara menyiasati. Hal ini mengandung makna strategi, karena manajemen penuh siasat atau strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Demikian pula dengan manajemen pendidikan Islam yang selalu memakai strategi tertentu.

    Kelima, sumber-sumber belajar dan hal-hal yang terkait. Sumber-sumber belajar di sini memiliki cakupan yang luas, yaitu:

    • Manusia, yang meliputi : guru, murid, pegawai dan pengurus
    • Bahan, yang meliputi buku, perpustakaan, dll
    • Lingkungan merupakan segala hal yang mengarah ke masyarakat
    • Alat dan peralatan seperti alat peraga, laboratorium, dsb
    • Aktivitas yang meliputi keadaan sosio politik, sosio kultural dalam masyarakat

    Keenam, tujuan pendidika Islam. Tujuan merupakan hal yang vital yang mengendalikan dan mempengaruhi komponen-komponen dalam lembaga pendidikan agama Islam.

    Ketujuh, efektif dan efisien. Artinya, manajemen yang berhasil mencapai tujuan dengan penghematan tenaga, waktu dan biaya.

    Menurut Mujamil Qomar, perwujudan secara riil manajemen pendidikan Islam masih kalah dengan non muslim hal ini ditunjukkan oleh hal-hal di bawah ini :

    • Islam masih terbiasa dengan tradisi dakwah, ukan akademik
    • Dalam hal pendanaan Islam masih jauh dari kebutuhan.
    • Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan Islam masih kurang, masyarakat Islam jika mempunyai anak pandai di sekolahkan pada sekolah negeri.
    • Profesionalisme masyarakat muslim masih apa adanya.
    1. Fungsi Manajemen Pendidikan Islam

    Menurut Mahdi bin Ibrahim, fungsi manajemen pendidikan Islam meliputi; Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

    1. Fungsi Perencanaan (planning)

    Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :

     

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hasyr: 18)

     

    Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.

    1. Fungsi Pengorganisasian (organizing)

    Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.

    Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.

    1. Fungsi Pengarahan (directing)

    Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

    Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu: Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.

    Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.

    1. Fungsi Pengawasan (controlling)

    Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil. Monitoring bukan hanya dilakuakan oleh manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencanaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.

    1. Karakteristik Manajemen Pendidikan Islam

    Manajemen pendidikan Islam merupakan manajemen pendidikan yang berlabel Islam. Sudah barang tentu mempunyai karakteristik tersendiri. Karakteristik itu tidak lepas yang bersifat Islami.

    Islam, menurut prof. Mujamil Qomar dapat dimaknai sebagai Islam wahyu dan Islam budaya. Isalm wahyu meliputi al Quran dan hadis-hadis Nabi, baik hadis Nabawi maupun hadis Qudsi. Sementara itu, Islam budaya meliputi ungkapan sahabat Nabi, pemhaman ulama, pemahaman cendekiawan Muslim dan budaya umat Islam. Kata Islam yang menjadi identitas manajemen pendidikan ini dimaksudkan dapat mencangkup makna keduanya, yakni Islam wahyu dan Islam budaya. Karena itu, pembahasan dalam manajemen melibatkan wahyu dan budaya kaum muslimin ditambah dengan kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara umum. Bahan-bahan keilmuan dalam manajemen pendidikan islam meliputi :

    1. Teks-teks wahyu, baik al Quran maupun hadis sahih sebagai pengendali bangunan rumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam.
    2. Aqwal (perkataan-perkataan) para sahabat Nabi, ulama, cendekiawan muslim sebagai pijakan logis argumentative dalam menjelaskan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam
    3. Perkembangan lembaga pendidika islam sebagai pijakan empiris dalam mendasari perumusan kaidah-kaidah teoritis manajemen pendidikan islam.
    4. Kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) dalam lembaga pendidikan islam sebagai pijakan empiris dalam merumuskan kemungkinan strategi yang khas dalam mengelola lembaga pendidikan islam
    5. Ketentuan kaidah- kaidah manajemen pendidikan sebagai pijakan teoritis dalam mengelola lembaga pendidikan isalm, dengan tetap melkukan kritik jika terdapat ketentuan-ketentuan atau prinsip-prinsip yang tidak relevan supaya sesuai dengan kondisi budaya yang terjadi dalam lembaga pendidikan islam.

     

    BAGIAN KEDUA

    1. Pengertian Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam
      1. Pengertian Kepemimpinan

    Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela,penuh semangat,ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.

    Sedangkan pengertian kepemimpinan dalam pendidikan adalah (dalam hal ini kepala sekolah) merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan staf sekolah agar dapat bekerja secara efektif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan.

    1. Tipe atau Gaya Kepemimpinan

    Tipe dan gaya kepemimpinan yang  pokok ada tiga, yaitu (1) otokratis, (2) laissez faire, (3) Demokratis

    1. Kepemimpinan yang Otokratis
    • Pemimpin bertindak sebagai dictator
    • Kekuasaan pemimipin hanya dibatasi undang undang
    • Penafsiran sebagai pemimpin hanyalah menunjukkan dan memberi perintah
    • Anggota tidak boleh membantah atau mengajukan saran
    • Pemimpin tidak menghendaki rapat atau musyawarah
    • Supervisi bagi pemimpin hanyalah mengontrol segala perintah perintah yang telah ia berikan untuk ditaati dan dijalani
    1. epemimpinan yang Laissez Faire
    • Pemimpin membiarkan orang berbuat sekehendaknya
    • Pemimipin sam sekali tidak memberikan kontrol, dan koreksi terhadap pekerjaan anggotnya.
    • Kekuasaan dan tanggung jawab bersimpang siur dan tidak teratur.
    • Tingkat keberhasilan organisasi semata mata disebabkan karena kesadaran anggota.
    • Struktur organisasinya tidak jelas dan kabur.
    1. Kepemimpinan yang Demokratis
    • Pemimpin bukan diktator akan tetapi merakyat
    • Hubungan dengan anggotanya berasas kekeluargaan
    • Pemimipin selalu berusaha menstimulasi anggota anggotanya agar bekerja secara kooperatif.
    • Mau menerima kritik dan saran dari kelompoknya.
    • Pemimpin selalu berusaha membangun semangat anggota.
    • Tipe demokrasi  merupakan tipe kepemimpinan yang paling baik terutama untuk kepemimpinan pendidikan.
      1. Kepemimpinan dalam Lembaga Pendidikan Islam

    Salah satu bentuk kepemimpinan dalam lembaga pendidikan islam adalah kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan, karena ia merupakan pemimpin dilembaganya. Kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah.karena mereka merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh sekolah menuju tujuannya.sekolah yang efektif , bermutu, dan favorit tidak lepas dari peran kepala sekolahnya.maka ia harus mampu membawa lembaganya kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan,ia harus mampu melihat adanya perubahan serta mampu melihat masa depan dalam kehidupan global yang lebih baik.kepal sekolah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anak didiknya.

    Sebagai pemimpin pendidikan yang professional,kepala sekolah dituntut untuk selalu mengadakan perubahan, mereka harus memiliki semangat yang berkesinambungan untuk mencari terobosan-terobosan baru demi menghasilkan suatu perubahan yang bersifat pengembangan dan penyempurnaan.dari kondisi yang memprihatinkan menjadi kondisi yang lebih dinamis, baik segi fisik maupun akademik ,seperti perubahan semangat keilmuan,atmosfer belajar dan peningkatan strategi pembelajaran.disamping itu, kepala sekolah juga harus berusaha keras menggerakkan para bawahannya untuk berubah ,setidaknya mendukung perubahan yang dirintis kepala sekolah secara proaktif,dinamis, bahkan progresif, system kerja para bawahan harus lebih kondusif, kinerja mereka harus dirangsang supaya meningkat, disiplin mereka harus dibangkitkan, sikap kerjasama mereka lebih dibudayakan, dan suasana harmonis diantara mereka lebih diciptakan.

    Secara garis besar kualitas dan kompetensi kepala sekolah dapat dinila dari kinerjanya dalam mengaktualisasikan fungsi dan perannya sebagai kepala sekolah yaitu meliputi:

    1. Sebagai Pendidik (educator)
    2. Kemampuan membimbing guru dalam melaksanakan tugas
    3. Mampu memberikan alternative pembelajaran yang efektif
    4. Kemampuan membimbing bermacam-macam kegiatan kesiswaan
    5. Sebagai Manajer
    6. Kemampuan menyusun organisasi personal dengan uraian tugas sesuai dengan standar yang ada.
    7. Kemampuan menggerakkan stafnya dan segala sumber daya yang ada serta lebih lanjtu memberikan acuan yang dinamis dalam kegiatan rutin dan temporer.
    8. Kemampuan menyusun program secara sistematis.
    9. Sebagai Administrator
    10. Kemampuan mengelola semua perangkat KBM secara sempurna dengan bukti berupa data administrasi yang akurat.
    11. Kemampuan mengelola administrasi kesiswaan , ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, dan administrasi persuratan dengan ketentuan yang berlaku
    12. Sebagai Supervisor
    13. Kemampuan menyusun program supervise pendidikan dilembaganya yang dapat melaksanakan dengan baik
    14. Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi untuk peningkatan kinerja guru dan karyawan
    15. Kemampuan memanfaatkan kinerja guru atau karyawan untuk pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan
    16. Sebagai Pemimpin
    17. Memiliki kepribadian yang kuat
    18. Memahami semua personalnya yang memiliki kondisi yang berbeda, begitu juga kondisi siswanya berbeda dengan yang lainnya
    19. Memiliki upaya untuk peningkatan kesejahteraan guru dan karyawannya
    20. Sebagai Inovator
    21. Memiliki gagasan baru (proaktif) untuk inovasi dan perkembangan madrasah, memilih yang relevan untuk kebutuhan lembaganya
    22. Kemampuan mengimplementasikan ide yang baru dengan baik
    23. Kemampuan mengatur lingkungan kerja sehingga lebih kondusif
    1. Permasalahan di dalam Manajemen dan Kepemimpinan Lembaga Pendidikan Islam

    Jenis dan bentuk konflik itu memiliki implikasi dan konsekuensi bagi manajer lembaga pendidikan islam. Karena, manajer memiliki peran yang fungsional dalam mengelola konflik dan diharapkan mampu mengelolanya sebaik mungkin sehingga menghasilkan kepuasan bagi semua pihak, terutama pihak yang berkonflik. Setidaknya, mereka tidak lagi membuat ulah yang berpotensi menyulut konflik baru pasca penyelesaian konflik.

    Tugas seorang pemimpin lembaga pendidikan islam harus mampu menyelesaikan permasalahan atau konflik yang sedang dihadapinya, seperti:

    1. Konflik diri sendiri, seperti kepela madrasah pada waktu yang sama dihadapkan pada pilihan dilematik antara pergi kemadrasah tepat waktu sebagaimana ketentuan yang sudah disepakati atau kepentingan mengantar istri kepasar karena memilikihajatyang sangat peting. Memilih dua kepentingan ini benar-benar menimbulkan konflik dalam dirinya yang sama-sama beresiko. Dan ternyata tidak banyak kepala madrasah yang memilih pergi kemadrasah tepat waktu sebagai teladan bagi bawahannya dengan menunda kepentingan keluarga (istri).
    2. Konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan. Konflik antar pemimpin ini angat menggangu proses pembelajaran dan tentu berdampak negatif pada mutu hasil pembelajaran atau pendidikan. Konflik semacam ini merupakan konflik tingkat tinggi, karena terjadi pertentangan antar pimpinan, yaitu konflik antar pimpinan penyelenggara pendidikan (ketua yayasan) dengan pimpinan pelaksana pendidikan (kepala madrasah). Di Indonesia disinyalir banyak yayasan yang mengaharapkan pendapatan finansial dari pelaksana pendidikan, padahal pihak pelaksana pendidikan sendiri juga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar madrasah
    3. Konflik antar pemimpin madrasah dengan guru, dalam hal ini hubungan antar pemimpin madrasah dengan guru kadang tidak harmonis, dikarenakan adanya perbedaan pendapat  dalam musyawarah ataupun dalam penyelesaian masalah. Hal semacam ini sering terjadi di madrasah-madrasah.
    4. Konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua komite (masalah dana pembiayaan operasional madrasah). Seperti, dalam rapat untuk penentuan dana pembanguna madrasah, adanya perselisihan pendapat antar keduanya dalam pengambilan keputusan dana tersebut.

    Beberapa factor yang menyebabkan lemahnya manajemen pendidikan Islam pada saat ini sebagai berikut:

    1. Islam masih terbiasa dengan tradisi dakwah, ukan akademik
    2. Dalam hal pendanaan Islam masih jauh dari kebutuhan.
    3. Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan Islam masih kurang, masyarakat Islam jika mempunyai anak pandai di sekolahkan pada sekolah negeri.
    4. Profesionalisme masyarakat muslim masih apa adanya.

     

    1. Solusi atas Permasalahan di dalam Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam
    2. Untuk mengatasi konflik pribadi diatas hendaknya seorang pemimpin mempunyai keprofesionalan untuk membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan lembaga. Seorang pemimpin harus mengutamakan kepentingan lembaga diatas kepentingan pribadi.
    3. Dalam hal mengatasi konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan seperti diatas, diperlukan suatu upaya untuk menyinkronkan permasalahan. Kedua belah pihak perlu bertemu untuk membahas dan merumuskan jalan keluar dari permasalahan yang ada sehingga tercapailah suatu kemufakatan untuk kepentingan bersama.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    BAB III

    PENUTUP

     

    Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien. Fungsi manajemen pendidikan Islam meliputi; Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

    Permasalahan yang sering terjadi dalam lembaga pendidikan Islam antara lain : konflik diri sendiri, konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan, konflik antar pemimpin madrasah dengan guru, konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua komite (masalah dana pembiayaan operasional madrasah). Solusi atas permaslahan tersebut antara lain sebagai berikut:

    1. Untuk mengatasi konflik pribadi diatas hendaknya seorang pemimpin mempunyai keprofesionalan untuk membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan lembaga.
    2. Dalam hal mengatasi konflik antar pemimpin madrasah dengan ketua yayasan seperti diatas, diperlukan suatu upaya untuk menyinkronkan permasalahan.
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan satu

Galaxy S III, Mantapkan Samsung Pesaing Utama Apple

Andina Librianty – Okezone
Senin, 7 Mei 2012
Galaxy S III (Foto: Mashable)

SEOUL – Menurut analis, lewat Galaxy S III yang diresmsikan beberapa hari lalu telah mengukuhkan posisi Samsung sebagai penantang utama Apple di industri smartphone. Galaxy S III merupakan kelanjutan dari Galaxy S II, handset Android terlaris dan satu-satunya smartphone untuk menandingi iPhone dalam penjualan.

Smartphone terbaru Samsung itu menghadirkan software baru seperti pengenalan suara, layar yang lebih besar dan tajam. Keunggulan lainnya, penyimpanan online hingg 50GB lewat kemitraan dengan Dropbox.

“Sementara Galaxy S III sangat diinginkan bagi pengguna yang antusias dan canggih, Samsung akan  membangun  brand Galaxy yang sudah populer dan mendorong berbagai saluran distribusinya sebelum iPhone 5 diluncurkan,” ujar seorang analis industri di Informa Telecoms & Media Malik Saadi, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (7/5/2012).

Meluncurnya Galaxy  S III, menurut editor Cnet Inggris Jason Jenkis, membuat iPhone terlihat seperti model lama. “Ini (Galaxy S III) mengukuhkan Samsung sebagai salah satu produsen ponsel terkemuka dan memberikan tekanan pada Apple untuk datang dengan sesuatu yang berbeda bagi iPhone terbaru di akhir tahun,” katanya.

Pernyataan serupa juga disampaikan analis Ovum Adam Leach. Menurutnya, Galaxy S III besutan perusahaan asal Korea Selatan itu bukan hanya perlu menonjol di kalangan smartphone Android, tapi juga akan bersaing langsung dengan iPhone terbaru dari Apple nantinya.

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan satu

Samsung Pamerkan Windows Phone Focus 2

Yoga Hastyadi Widiartanto – Okezone
Selasa, 8 Mei 2012

CALIFORNIA – Samsung dan AT&T memamerkan windows phone (WP) besutan terbarunya. Ponsel cerdas yang diberi nama Focus 2 ini dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau.

Diwartakan PC World, Selasa (8/5/2012), ponsel cerdas ini diperkenalkan di event CTIA 2012 dan akan hadir pada 20 Mei 2012. Bersama dengan AT&T, Samsung membanderolnya senilai USD 50 dengan kontrak dua tahun.

Focus 2 diberi tampilan yang glossy dengan tubuh berwarna putih. Ponsel cerdas ini memiliki ketebalan sekira 0,43 inci dan bobotnya pun cukup ringan, meski bagian sampingnya tampak agak plastik.

Ponsel cerdas ini dibekali layar Super AMOLED 4 inci. Sedangkan untuk mengabadikan momen, Samsung menyematkan kamera belakang setajam 5 megapixel dengan tambahan flash.

Kamera itu juga bisa digunakan untuk merekam video high definition (HD). Kemudian, seperti halnya WP lain, Focus 2 hadir dengan fitur seperti Microsoft Office Mobile, SkyDrive, Xbox Mobile, Bing Search dan berbagai apikasi Microsoft lainnya.

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan satu

Emas Antam Anjlok Rp5.000/Gram

Martin Bagya Kertiyasa – Okezone

Rabu, 14 Maret 2012 09:03 wib
Ilustrasi. Reuters.

Ilustrasi. Reuters.
JAKARTA – Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan hingga Rp5.000 per gram. Sementara harga buy back emas mengalami penurunan Rp6.000 dari Rp499 ribu per gram, menjadi Rp493 ribu per gram.

Berikut harga emas Antam seperti dilansir dari logammulia.com, Rabu (14/3/2012), emas satu gram Rp553 ribu, dua gram Rp1,064 juta, 2,5 gram Rp1.319.500, tiga gram Rp1,575 juta, empat gram Rp2,086 juta, lima gram Rp2.607.500, 10 gram Rp5,175 juta, 25 gram Rp12,862 juta, 50 gram Rp25,647 juta, 100 gram Rp51,224 juta, 250 gram Rp127,33 juta, dan 1.000 gram Rp511 juta.

Sementara pada pasar global, mengutip Reuters, emas Comex untuk April memperpanjang penurunan, dengan jatuh sekira 1,0 persen menjadi USD1.676,40 per ous. Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) memberikan beberapa sinyal tentang prospek pelonggaran moneter lebih lanjut.

Sebagian besar bank AS melewati stress test Federal Reserve, sementara JPMorgan Chase memberikan triger akan penguatan ekonomi yang lebih baik dan membantu mengangkat saham pasar.

Sedangkan spot emas naik 80 sen menjadi USD1.675,55 per ons, setelah jatuh ke titik terendah sekira USD1.661 per ons pada kemarin, terlemah sejak akhir Januari.

Berikut harga logam mulia yang diperdagangkan, spot emas naik 80 sen persen ke USD1.675,55 per ons, spot perak turun tipis 3 sen ke USD33,35 per ons, spot platinum naik USD9,65 menjadi USD1691,08 per ons, spot palladium naik USD3,75 ke USD703,85 per ons.

Sementara Comex Gold untuk pengiriman April, turun USD17,80 atau 1,05 persen menjadi USD1.676,40 per ons, sedangkan Comex Silver turun 18 sen atau 0,54 persen ke USD33,40 per ons.

Tinggalkan komentar

Filed under BERITA

Pendiri Mazhab: Imam Hanbali, Pemegang Teguh Hadits Nabi (1)

 Kamis, 08 Maret 2012 12:00 WIB REPUBLIKA.CO.ID,

”Ia murid paling cendekia yang pernah saya jumpai selama di Baghdad. Sikapnya menghadapi sidang pengadilan dan menanggung cobaan akibat tekanan khalifah Abbasiyah karena menolak doktrin resmi Muktazilah merupakan saksi hidup watak agung dan kegigihan yang mengabadikannya sebagai tokoh besar sepanjang masa.” Demikian penilaian yang diungkapkan oleh Imam Syafi’i, yang tak lain adalah guru Imam Hanbali. Imam Hanbali yang bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hanbal adalah seorang ulama besar di bidang hadits dan fikih yang pernah dimiliki dunia Islam. Dilahirkan di Salam, Baghdad, pada 164 H, Imam Hanbali sudah menunjukkan kecerdasannya sejak usia dini. Ketika usianya relatif muda, ia sudah hafal Alquran. Hanbali mendapatkan pendidikannya yang pertama di Kota Baghdad. Saat itu, kota Baghdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filsuf, dan sebagainya. Perhatiannya sangat besar pada ilmu pengetahuan. Ia dengan tekun belajar hadits, bahasa, dan administrasi. Ia banyak menimba ilmu dari sejumlah ulama dan para fukaha besar. Antara lain Abu Yusuf (seorang hakim dan murid Abu Hanifah) dan Hisyam bin Basyir bin Abi Kasim (ulama hadits di Baghdad). Ia juga berguru kepada Imam Syafi’i, dan mengikutinya sampai ke Baghdad. Suatu ketika seseorang menegurnya, ”Anda telah sampai ke tingkat mujtahid dan pantas menjadi imam. Mengapa masih menuntut ilmu?Apakah Anda akan membawa tinta ke kuburan?” Imam Hanbali pun menjawab, ”Saya akan menuntut ilmu sampai saya masuk ke liang kubur.” Disamping itu ia juga menaruh perhatian besar kepada hadits-hadits Nabi SAW. Karena perhatiannya yang besar, banyak ulama, seperti Ibnu Nadim, Ibnu Abd Al-Bar, At-Tabari, dan Ibnu Qutaibah, menggolongkan Imam Hanbali ke dalam golongan ahli hadits, bukan golongan mujtahid. Namun, inilah sebenarnya karakteristik Mazhab Hanbali. Mazhab itu selalu berpedoman pada teks-teks hadits dan mempersempit ruang penggunaan qiyas dan akal. Begitu besar perhatiannya kepada hadits, sehingga ia pergi melawat ke berbagai kota untuk mendapatkan hadits, antara lain ia pernah ke Hedzjaz, Kufah, dan Basra. Atas usahanya itu, akhirnya ia dapat menghimpun ribuan hadits yang dimuat dalam karyanya, Musnad Ahmad ibn Hanbal. Imam Hanbali menyusun kitabnya yang terkenal itu dalam jangka waktu sekitar 60 tahun. Kitab ini menghimpun 40.000 hadits yang diseleksi dari sekitar 700.000 hadits yang dihafalnya. Namun, Imam Abdul Aziz Al-Khuli (seorang ulama yang menulis banyak biografi tokoh-tokoh sahabat dan tabi’in) berpendapat bahwa ada 10.000 hadits yang berulang dalam kitab itu. Jadi menurutnya, kitab itu hanya mengandung 30.000 hadits. Sebagian besar ulama menganggap hadits dalam kitab ini sahih, tetapi ada juga ulama yang menyatakan beberapa hadits dalam kitab itu lemah.

Tinggalkan komentar

Filed under BERITA

Pendiri Mazhab: Imam Hanafi, Dari Pedagang Menjadi Imam Besar (1)

Jumat, 09 Maret 2012 14:07 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Postur tubuhnya ideal. Tutur katanya santun, jelas, dan indah bagai mutiara. Selalu tampil rapi dengan aroma harum yang menyerbak. Penuh kasih sayang, cerdas, berwibawa, baik dalam pergaulan, tidak senang membicarakan hal-hal yang tak berguna.

Begitulah gambaran sosok Imam Hanafi, salah satu imam mazhab dalam dunia Islam. Ia punya garis keturunan Persia, yang berarti satu-satunya imam mazhab yang bukan orang Arab.

Namun, di dalam Islam tidak mengenal perbedaan antara orang Arab dan bukan Arab. Semua imam mazhab berjuang untuk menegakkan ajaran Alquran dan sunah Nabi SAW.

Selain dikenal dengan nama Imam Hanafi, ia juga masyhur disebut Abu Hanifah. Soal nama ini, para ahli sejarah punya beragam pandangan. Ada yang menyatakan, kemasyhuran nama itu karena ia memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah. Sebab itu, ia diberi julukan dengan Abu Hanifah, yang berarti ayah dari si Hanifah.

Pandangan lain menyebut, karena sejak kecil ia sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya sehingga ia dianggap seorang yang hanif (sikap yang lurus) pada agama. Ada pula yang menerjemahkan kata “hanifah” berarti tinta dalam bahasa Persia. Ini berkaitan dengan kebiasaan beliau yang selalu membawa tinta ke manapun pergi.

Pedagang Minyak

Imam Hanafi lahir pada tahun 80 Hijriah bertepatan dengan 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Sejatinya namanya adalah Nu’man bin Tsabit bin Marzaban Al-Farisi, bergelar Al-Imam Al-A’zham. Ketika lahir, pemerintah kekhalifahan Islam dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan, keturunan kelima Bani Umaiyyah. Hanafi hidup dalam keluarga yang saleh. Sudah hafal Alquran sejak masih usia kanak-kanak dan merupakan orang pertama yang menghafal hukum Islam dengan cara berguru.

Saat masih kecil, Hanafi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera. Bahkan dia memiliki toko untuk berdagang kain. Menurut riwayat, Imam Hanafi pernah diajak oleh ayahnya, Tsabit, bertemu dengan Ali bin Ali Thalib.

Sebelum Imam Hanafi kembali ke negerinya, Ali bin Ali Thalib berdoa untuknya, “Mudah-mudahan di antara keturunan Tsabit ada yang menjadi orang baik-baik dan berderajat luhur.” Kisah ini juga pernah dituturkan Ismail bin Hamad bin Abu Hanifa, cucu Imam Hanafi.

Doa Ali bin Ali Thalib ternyata terbukti. Dalam perjalanan waktu, Imam Hanafi kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu fikih dan menguasai bebagai bidang ilmu agama lain, seperti ilmu tauhid, ilmu kalam, ilmu hadits, di samping ilmu kesusastraan dan hikmah. Tak sebatas menguasai banyak bidang ilmu, ia juga dikenal dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial keagamaan yang rumit.

Yazid bin Harun berujar, “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cerdas dari Imam Abu Hanifah.”

Kalimat yang hampir sama juga terlontar dari Imam Syafi’i, “Tidak seorang pun mencari ilmu fikih kecuali dari Abu Hanifah. Ucapannya sesuai apa yang datang dari Rasulullah SAW dan apa yang datang dari para sahabat.”

Tinggalkan komentar

Filed under BERITA

Tips Kesehatan: 5 Terapi Alami untuk Mengatasi Migren

 Migren adalah sakit kepala intens yang dapat berlangsung selama beberapa jam bahkan berhari-hari. Migren merupakan kondisi yang sangat menyakitkan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Beberapa gejala migren diantaranya adalah mual, muntah, atau sensitif terhadap cahaya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali hal apa saja yang menjadi pemicu migren. Jika dapat menemukan penyebab migren, maka akan lebih mudah untuk menghentikan atau menyembuhkannya. Ada beberapa hal yang dapat memicu timbulnya migren diantraranya adalah makanan, zat aditif, perubahan hormon, stres, obat-obatan, suara keras, dan cahaya yang terang. Oleh karena itu, kenalilah pemicu migren Anda dan hindari pemicu tersebut sebisa mungkin untuk mencegah migren muncul kembali. Dalam artikel ini akan diulas mengenai tips untuk mengatasi migren dengan cara alami. 1. Chiropractic Cobalah metode penyembuhan alternatif Chiropractic untuk mengatasi migren yang mungkin sering mengganggu aktivitas Anda. Pengobatan chiropractic dapat membantu migren dengan cara meluruskan kembali tulang punggung dan leher, melepaskan tekanan pembuluh darah yang tegang, sehingga darah dapat kembali mengalir bebas pada tubuh dan sistem saraf. 2. Akupunktur Terapi akupunktur dapat meredakan migren dengan melepaskan penyumbatan energi dalam tubuh dan melancarkan kembali aliran darah, mengendurkan kembali pembuluh darah kecil yang menegang dan menjadi penyebab terjadinya migren. 3. Minum banyak air putih Kurangi minuman bersoda, kopi, dan soft drink lainnya. Dianjurkan minum enam sampai delapan gelas air putih sehari. Dengan banyak minum air putih maka dapat membantu tubuh membersihkan racun yang dapat menyebabkan migren. 4. Aromaterapi Aromaterapi diyakini dapat membantu meringankan migren. Tambahkan beberapa tetes minyak aromaterapi lavender pada handuk kecil dan gunakan sebagai kompres di kepala, ini dapat meredakan sakit kepala akibat migren. 5. Teh Jahe Pada saat mendapatkan serangan migren, minumlah teh jahe hangat yang dibuat dari jahe segar. Minuman herbal teh jahe hangat ini dapat meringankan sakit kepala atau migren.[]

http://oketips.com/5646/tips-kesehatan-5-terapi-alami-untuk-mengatasi-migren/

Tinggalkan komentar

Filed under INFO