RUNTUHNYA EKONOMI DAN PERBANKAN KONVENSIONAL

KRISIS DAN RUNTUHNYA EKONOMI/PERBANKAN KONVENSIONAL GLOBAL

Krisis ekonomi global membuktikan betapa rapuh dan rentannya ekonomi kapitalis, dengan terjadinya krisis ekonomi global maka yang paling merasakan adalah masyarakat negara-negara miskin dan berkembang. Melihat hal tersebut, maka tidak mengherankan apabila sejumlah pakar ekonomi terkemuka, mengkritik dan mencemaskan kemampuan ekonomi kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka bumi ini. Bahkan cukup banyak klaim yang menyebutkan bahwa kapitalisme telah gagal sebagai sistem dan model ekonomi.

Tuntutan sistem baru sekarang semakin menguat untuk menggantikan sistem ekonomi kapitalis yang sudah jelas-jelas semakin menyengsarakan dan memiskin masyarakat. Kehadiran konsep ekonomi baru tersebut, bukanlah gagasan awam, tetapi mendapat dukungan dari ekonom terkemuka di dunia yang mendapat hadiah Nobel 1999, yaitu Joseph E.Stiglitz. Dia  danBruce Greenwald menawarkan paradigma baru dalam ekonomi moneter. Mereka mengkritik teori ekonomi kapitalis (konvensional) dengan mengemukakan pendekatan moneter baru yang entah disadari atau tidak, merupakan sudut pandang ekonomi Islam di bidang moneter, seperti peranan uang, bunga, dan kredit perbankan (kaitan sektor riil dan moneter).[1]

Jauh sebelum krisis ekonomi Amerika Serikat, yang juga menjadi pemicu krisis perekonomian global terjadi, Alex Callinicos—Profesor Politik di Universitas York, Inggris —memprediksikan bahwa di awal abad ke-21 liberal kapitalisme akan menjadi “lebih liar” dan sulit dikendalikan. Ternyata Callinicos benar, dibanding krisis sebelumnya, krisis ekonomi 2008 memberikan dampak yang lebih mengkhawatirkan seluruh dunia. Pemerintah AS terpaksa menggelontorkan dana talangan sebesar 700 miliar dollar dan diprediksikan akan terus bertambah, negara-negara Eropa juga turut mengambil langkah serupa untuk menyelamatkan bangunan perekonomian mereka.

Anjloknya saham di berbagai pasar bursa, investor yang panik, krisis kepercayaan pasar, dan liarnya persebaran aliran modal berkonsekuensi pada rapuhnya perekonomian global yang selama ini dikendalikan liberalisme. Kritik terhadap liberalisme lantas bermunculan dari sana-sini, kapitalisme dan sistem ekonomi liberal dianggap “gagal” membidani kesejahteraan kehidupan umat

Ekonomi liberal adalah teori ekonomi yang diuraikan oleh tokoh-tokoh penemu liberal klasik seperti Adam Smith atau French Physiocrats. Sistem ekonomi liberal mempunyai kaitan dengan kebebasan alami yang dipahami oleh tokoh-tokoh ekonomi liberal klasik tersebut. Konsep dari ekonomi liberal ialah bergerak kearah suatu sistem ekonomi pasar bebas dan sistem berpaham perdagangan bebas. Ciri utama ekonomi liberal adalah adanya kebebasan dalam memiliki sumber-sumber produksi, pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi, Masyarakat terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja, serta Pasar merupakan dasar setiap tindakan ekonomi.[2]

Dampak negative dari penerapan ekonomi liberal adalah terjadinya kesenjangan antara pemilik modal dan buruh, serta atara si kaya dan si miskin. Pernahkah kita membayangkan, 3 orang terkaya di dunia, kekayaannya lebih dari gross domestic product (GDP) 48 negara termiskin dunia, yang berarti setara dengan seperempat jumlah total Negara di dunia, demikian hasil penelitian Brecher dan Smith pada tahun 2005. Tidak kalah hebatnya, menurut penelitian Noam Chomsky, 1% penduduk dengan pendapatan tetinggi dunia setara dengan 3 miliar manusia.

Krisis ekonomi global juga merambah ke dalam dunia perbankan mereka, kita bisa melihat keruntuhan perbankan-perbankan besar yang ada di amerika dan negara-negara eropa. Kita semua tahu bahwa krisis perbankan di amerika dimulai dengan terjadinya kredit macaet di properti, krisis ekonomi global mengakibatkan turunnya pendapatan masyarakat amerika, dan naiknya suku bunga perbankan mengakibatkan terjadinya kemacetan kredit properti tersebut.

Dari hal tersebut diatas, kita bisa melihat bahwa sistem perbankan konvensional dengan sistem bunganya mengakibatkan beban yang berat bagi masyarakat dan yang akhirnya mengakibatkan kredit macet dan juga mengakibatkan runtuh atau bangkrutnya perbankan-perbankan pemberi kredit. Dan kita bisa melihat betapa sistem bunga mengakibatkan beban yang cukup berat bagi masyarakat, masyarakat sudah dihadapi dengan pendapatan yang menurun karena krisis global, ditambah beban bunga yang harus dibayar.

EKONOMI DAN PERBANKAN SYARIAH SOLUSI PERMASALAHAN EKONOMI GLOBAL.

Pemikiran Ekonomi (economic thought) muncul semenjak kehadiran manusia diatas bumi ini. Sebenarnya perkembangan dan perbedaan pemikiran ekonomi merupakan fenomena reaksioner terhadap dinamika kondisi empirik kehidupan manusia dalam segala aspeknya; baik aspek ideologi, politik, ataupun sosial-budaya. Dalam peradaban Mesir klasik, Al-Qur’an telah menceritakan kisah Nabi Yusuf yang diangkat sebagai menteri perekonomian. Pada masa tersebut, masyarakat mesir sedang mengalami paceklik serta kelaparan. Kondisi itu mendorong Nabi Yusuf AS untuk mengambil suatu kebijakan ekonomi yang diawali dengan turunnya ilham melalui mimpi.[3]

sebagai peta kehidupan manusia, konsep ekonomi Islam sudah ada semenjak kehadiran agama Islam diatas bumi ini. Al-Qur’an dan hadits kaya akan hukum-hukum dan pengarahan kebijakan ekonomi yang harus diambil dan disesuiakan dengan perubahan zaman serta perbedaan regional.

Dalam konsep ekonomi Islam, harus dibedakan antara konsep dasar dengan hukum-hukum terperinci dan proses aplikasi hukum tersebut dalam konteks kehidupan ekonomi masyarakat. Konsep dasar yang ditawarkan Al-Qur’an dan hadits merupakan wacana global tentang kehidupan ekonomi yang berfungsi sebagai kerangka atas kebijakan dan langkah yang ingin direalisasikan. Sebuah konsep yang mengatur gerak langkah pelaku ekonomi dalam menjalankan kegiatan ekonomi.

Adapun pengertian ekonomi Islam adalah merupakan suatu ilmu yang mempelajari perilaku muslim (yang beriman) dalam suatu masyarakat Islam yang mengikuti Al-Qur’an, Hadits, ijma’, dan qiyas.[4]

Muhammad Syafi’i Antonio dalam bukunya Bank Syariah Dari Teori ke Praktek menguraikan nilai-nilai sistem perekonomian Islam, antara lain :[5]

  1. Perekonomian Masyarakat luas —Bukan Hanya Masyarakat Muslim—Akan Menjadi Baik Bila Menggunakan Kerangka Kerja atau Acuan Norma-Norma Islami

Banyak ayat Al-Qur’an yang menyerukan penggunaan kerangka kerja perekonomian Islam, diantaranya adalah :

Artinya : ”…..Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah berkeliaran dimuka bumi ini dengan berbuat kerusakan.” (al-Baqarah: 60)[6]

Artinya: ” Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 168)[7]

Semua ayat tersebut diatas merupakan penentuan dasar pemikiran dari pesan Al-Qur’an dalam bidang ekonomi. Dari ayat-ayat tersebut dapat difahami bahwa Islam mendorong penganutnya untuk menikmati karunia yang telah diberikan oleh Allah. Karunia tersebut harus didayagunakan untuk meningkatkan pertumbuhan, baik materi maupun non materi.

  1. Keadilan dan Persaudaraan Menyeluruh

Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid. Dalam tatanan itu, setiap individu diikat oleh persaudaraan dan kasih sayang bagai suatu keluarga. Sebuah persaudaraan yang universal dan tidak diikat batas geografis.

Keadilan dalam Islam memiliki implikasi sebagai berikut:

a)      Keadilan Sosial

Islam menganggap umat manusia sebagai suatu keluarga. Karenanya, semua anggota keluarga ini mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah. Secara sosial, nilai yang membedakan satu dengan yang lain adalah ketakwaan, ketulusan hati, kemampuann dan pelayanannya kepada kemanusiaan.

Rasulullah SAW bersabda:

”sesungguhnya Allah tidak melihat wajah dan kekayaanmu, tapi pada hati dan perbuatan (yang ikhlas).” (HR Ibnu Majah)[8]

b). Keadilan Ekonomi

Konsep persaudaraan dan perlakuan yang sama bagi setiap individu dalam masyarakat dan di hadapan hukum diimbangi oleh keadilan ekonomi. Tanpa pengimbangan tersebut, keadilan sosial kehilangan makna. Dengan keadilan ekonomi, setiap individu akan mendapatkan haknya sesuai dengan kontribusi masing-masing kepada masyarakat. Setiap individu pun harus terbebaskan dari eksploitasi individu lainnya. Islam dengan tegas melarang seorang muslim merugikan orang lain.

Artinya: ”dan janganlah kalian merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kalian merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (asu-Syu’araa : 183)[9]

  1. Keadilan Distribusi Pendapatan

Kesenjangan pendapatan dan kekayaan alam yang ada dalam masyarakat, berlawanan dengan semangat serta komitmen Islam terhadap persaudaraan dan keadilan sosial-ekonomi. Kesenjangan harus diatasi dengan menggunakan cara yang ditekankan Islam.

  1. Kebebasan Individu dalam Konteks Kesejahteraan Sosial

Konsep Islam amat jelas. Manusia dilahirkan merdeka. Karenanya, tidak seorang pun-bahkan negara mana pun- yang berhak mencabut kemerdekaan tersebut dan membuat hidup manusia menjadi terikat. Dengan kata lain, sepanjang kebebasan tersebut dapat dipertanggung jawabkan, baik secara sosial maupun dihadapan Allah.

Menyangkut masalah hak individu dalam kaitannya dengan masyarakat, para sarjana muslim sepakat pada prinsip-prinsip berikut ini:

a)      Kepentingan masyarakat yang lebih luas harus didahulukan dari kepentingan individu.

b)      Melepas kesulitan harus diprioritaskan dibanding memberi manfaat, meskipun keduanya sama-sama merupakan tujuan syariah.

c)      Kerugian yang lebih besar tidak dapat diterima untuk menghilangkan yang lebih kecil.

Istilah Bank Islam atau Bank Syari’ah merupakan fenomena baru dalam dunia ekonomi modern, kemunculannya seiring dengan upaya gencar yang dilakukan oleh para pakar Islam dalam mendukung ekonomi Islam yang diyakini akan mampu mengganti dan memperbaiki sistem ekonomi konvensional yang berbasis pada bunga. Karena itulah sistem Bank Syari’ah menerapkan sistem bebas bunga (interest free) dalam operasionalnya, dan karena itu rumusan yang paling lazim untuk mendefinisikan Bank Syari’ah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syari’at Islam, dengan mengacu kepada Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan dasar hukum dan operasional.

Perbankan syariah adalah lembaga investasi dan perbankan yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Sumber dana yang didapatkan harus sesuai dengan syariah, alokasi investasi yang dilakukan bertujuan untuk menumbuhkan ekonomi dan sosial masyarakat, dan jasa-jasa perbankan yang dilakukan sesuai dengan nilai-nilai syariah.[10] Dari definisi tersebut, jelas bahwa perbankan syariah tidak hanya semata-mata mencari keuntungan dalam operasionalnya, tetapi terdapat nilai-nilai sosial kemasyarakatan dan spiritualisme yang ingin dicapai.

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

BUNGA BAGI HASIL
1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi usaha akan selalu menghasilkan keuntungan. 1. Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil disepakati pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi.
2. Besarnya persentase didasarkan pada jumlah dana/modal yang dipinjamkan. 2. Besarnya rasio bagi hasil didasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh.
3. Bunga dapat mengambang/variabel, dan besarnya naik turun sesuai dengan naik turunnya bunga patokan atau kondisi ekonomi. 3. Rasio bagi hasil tetap tidak berubah selama akad masih berlaku, kecuali diubah atas kesepakatan bersama.
4. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah usaha yang dijalankan peminjam untung atau rugi. 4. Bagi hasil bergantung pada keuntungan usaha yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama.
5. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun keuntungan naik berlipat ganda. 5. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan keuntungan.
6. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama. 6. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.

Pada intinya perbedaan paling mendasar antara perbankan syariah dan perbankan konvensional adalah perbankan syariah non ribawi dan berprinsip keadilan. Oleh karena itu,

Krisis ekonomi dan perbankan global yang terjadi sekarang telah membuktikan bahwa bank yang beroperasi dengan prinsip syari’ah dapat bertahan di tengah gejolak nilai tukar dan tingkat suku bunga yang tinggi. Keadaan ini didukung oleh karakteristik kegiatan usaha bank Syari’ah yang melarang bunga bank konvensional dan nisbah bagi hasil sebagai penggantinya, serta melarang transaksi keuangan yang bersifat spekulatif (al-garar) dan tanpa didasarkan pada kegiatan usaha yang riil.

DAFTAR PUSTAKA

Joseph E.Stiglitz. Bruce Greenwald “Toward a New Paradigm in Monetary Economics”. newyork

Sadono Sukirno. Pengantar Teori Mikro Ekonomi

Marthon, Said Sa’ad, Ekonomi Islam Di tengah Krisis Ekonomi Global.

Pusat Komunikasi Ekonomi Syari’ah, Buku Saku Lembaga Bisnis Syari’ah, (Jakarta; PKES, 2006)

Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (jakarta, Gema Insani Press, 2001), 


[1] Joseph E.Stiglitz. Bruce Greenwald “Toward a New Paradigm in Monetary Economics”. newyork

[2] Sadono Sukirno. Pengantar Teori Mikro Ekonomi

[3] Marthon, Said Sa’ad, Ekonomi Islam Di tengah Krisis Ekonomi Global. Hal. 1

[4] Pusat Komunikasi Ekonomi Syari’ah, Buku Saku Lembaga Bisnis Syari’ah, (Jakarta; PKES, 2006), hal.1

[5] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, (jakarta, Gema Insani Press, 2001), hal.10-17

[6] al-Baqarah: 60

[7] al-Baqarah: 168

[8] Dalam kitab Zuhud, no. 4133

[9] asu-Syu’araa : 183

[10] Marthon, Said Sa’ad, Ekonomi Islam Di tengah Krisis Ekonomi Global (jakarta, zikrul, 2007). Hal. 143

Tinggalkan komentar

Filed under Tulisan satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s